Part 5
Aku kaget, apa maksudnya? Aku masih tidak mengerti. Aku menoleh kearah Za dan menunduk melihat reaksi Za karena ucapan Rissa. Dia sangat pucat. Dengan cepat, Za langsung menarik tanganku menuju pintu dan mendorongku keluar. Aku hanya menurutinya. Aku bingung. Aku hanya bisa menangis di luar, sebuah pertanyaan besar menghantui kepalaku. Apa maksud perkataan Rissa tadi? Aku mencoba mengingat kata-katanya dan teringat satu nama.....Alex!
Aku berlari menuju ruang olahraga. Ya saat ini sudah pukul 3, aku yakin dia berada disana. Aku menelusuri lorong-lorong loker. Kosong. Ya disini kosong. Lalu dimana dia? Aku mulai putus asa. Sudah sekitar dua jam aku mengelilingi sekolah hanya untuk mencarinya. Tidak biasanya dia menghilang, tidak biasanya ia tidak bersamaku, tidak biasanya.....Ah! Aku ingat suatu tempat, pasti dia disana! Aku pun langsung berlari keluar ruang olahraga, menuju tempat itu. Tempat dimana ia berada.
****
Lelah. Aku merasa sangat lelah. Ternyata jarak dari sekolah kesini cukup jauh....bahkan sangat jauh.....Atau mungkin lebih jauh dari biasanya....Aku masih harus mencarinya....Tiba-tiba ingatan tentang Rissa membuat tubuhku....terasa kaku....Aku.....aku tidak kuat lagi sepertinya.....
****
"El, kau baik-baik saja? Kenapa kau bisa pingsan? Apa yang terjadi denganmu?" suara Helena terdengar samar-samar di telingaku.
"Helana....apa yang terjadi denganku?" tanya ku dengan bingung.
"Kau pingsan...di dekat lapangan basket. Untung anak itu langsung membawamu kesini" kata Helena menjelaskan.
Aku masih bingung. Apa yang telah terjadi? Aku belum bisa mengingat dengan jelas. "Anak itu? Siapa?"
"Sayangnya aku tidak mengenalnya. Tapi aku merasa sering melihatnya. Tadi dia terlihat terburu-buru. Dia cuma bilang kau harus jaga kesehatan lalu bermain basket lagi. Itu...sedikit aneh. Hahaha" kata Helena sambil tertawa
Aku mencoba mencerna kata-kata Helena. Tiba-tiba aku mengingat semuanya. Aku pingsan karena mencari Al, dan sekarang aku harus menemukannya. Aku langsung bangun, melepas kain basah yang ada dikepalaku dan berlari turun kebawah.
"El! El! Mau kemana kau? Kau harus istirahat dulu" kata Helena.
"Maaf Helena, ada yang lebih penting dibanding istirahat. Aku hanya pergi sebentar saja. Bye!" kataku cepat dan langsung berlari menuju taman.
Tapi sore ini taman terlihat sepi. Tidak ada yang bermain, berjalan santai, ataupun olahraga. Seharusnya taman ini ramai setiap sore. Aku duduk di salah satu kursi taman dan menyadari alasan mengapa sore ini terlihat begitu sepi. Matahari tidak muncul, sangat gelap. Padahal ini masih sore. Aku hanya terdiam di kursi taman itu, aku terlalu lelah untuk mencari Al. Helena benar, aku butuh istirahat, aku sangat butuh. Aku hanya bisa duduk, mencoba merapatkan tubuhku. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Setetes air jatuh di hidung ku, namun lama kelamaan tak hanya setetes. Dalam sekejap tubuhku basah kuyup. Hujan turun. Hujan deras. Aku menggigil sampai tiba-tiba kehangatan mulai menyerap ditubuhku namun tidak lama tubuhku terasa dingin lagi. Aku baru mennyadari ada Al disampingku. Dia memberikanku jaket yang sekarang sudah basah terguyur oleh derasnya hujan. Kepalaku sekarang tertutup oleh sebuah payung kecil berwarna hijau. Aku menggigil.
"Maaf jaketku memang tak membantu. Tapi kurasa ini jauh lebih baik. Apa yang kau lakukan disini?" kata Al sambil menatapku dengan lembut.
"Aku...aku men..carimu" kataku menggigil, bibirku bergetar, kepalaku pusing dan aku lemas.
"El? Kau baik-baik saja? Untuk apa kau mencariku?" tanya Al bingung.
"Ya..aku..men..coba...untuk...ba..i..k..baa..." aku sudah tidak kuat, tubuh ku lemas, aku pun tak sadarkan diri.
****
Aku terbaring lemas di sebuah ruangan yang tak kukenal. Kepalaku terasa sakit. Tubuhku lemas. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suaraku. Samar-samar kulihat ruangan ini, ini pasti karmar lelaki. Kamar yang di cat merah, perabotan yang sederhana dan berantakan. Dimana aku?
"Kau sudah sadar?" terdengar suara seorang ibu. Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita cantik.
"Si..ap..a.ka..u?" tanya ku terbata. Suara ku seperti ditahan. Tenggorokan ku terasa sakit.
"Ini kamarku dan dia ibuku" terdengar suara pintu terbuka dan terlihat seseorang yang sangat kukenal.
"Ke..na...p...." aku tidak sanggup menyelesaikan kata-kataku. Tenggorokan ku sangat sakit.
"Sepertinya tenggorokanmu sakit parah, biar aku ambil kan obat sebentar ya" kata perempuan itu dengan lembut. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Kau sudah gila ya, El? Kau baru saja pingsan lalu berlari ke taman dan membiarkan dirimu terguyur oleh hujan!" kata Al padaku.
Aku hanya bisa terdiam dan menunduk. Aku tak ingin tenggorokanku tersiksa lagi. Tiba-tiba Al mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku bingung, aku hanya memejamkan mataku. Al menyentuhkan jidatnya ke jidatku. Itu saja sudah cukup membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat, bahkan lima kali!
"Aku tak mengira suhu tubuhmu akan sepanas ini. Kau mengalami demam yang cukup parah. Kurasa demam ini tidak hanya disebabkan oleh guyuran hujan. Ada yang mengganggu pikiranmu, ya kan?" tanya Al.
Aku menunduk dan akhirnya mengangguk. Al menghela nafas dan mengacak-acak rambutku. Lagi-lagi jantungku berdetak dengan hebatnya. Tiba-tiba pintu terbuka, terlihat ibu Al sambil membawa obat, kali ini ia terlihat berbeda. Ia mengenakan kacamata dan jas putih, menurutku ibu seperti jas seorang dokter.
"Sedang ada pasien, Mom?" tanya Al.
"Ya, banyak sekali orang yang datang. Sepertinya flu sedang merajalela" kata Ibu Al sambil menyuapi sesendok obat berwarna merah padaku. Aku menelan obat itu dengan susah payah. Obat itu terasa sangat pahit dilidahku. Aku langsung mengambil minum yang sedari tadi dipegang oleh Ibu Al. Aku biasanya orang yang paling menghindari obat, karena menurutku obat tidak berpengaruh apa-apa. Tapi baru kali ini aku merasa lebih enak setelah minum obat. Aku tak tahu karena minum obat atau karena hal lain. Tapi aku merasa sangat lebih baik.
Aku hanya diam tertunduk. Mencerna kata-kata Rissa yang entah kenapa menyesakkan dadaku. Berbagai pertanyaan pun mulai muncul dikepalaku, tentu saja pertanyaan tentang Al.
Jadi sebenarnya...........ada hubungan apa antara dengan Al dan Rissa? Apakah aku yang membuat........jarak diantara mereka? Kenapa.....selama ini mereka tidak terlihat dekat? Tentu saja.........aku mengerti sekarang........akulah penyebabnya. Aku adalah seorang perusak.
To be continoued.
****
Bosan. Ya, saat ini aku sedang duduk sendiri di kelas. Aku sendiri. Aku hanya membolak-balikan buku Biologiku. Rissa sudah mulai masuk sekolah setelah beberapa minggu ia mengalami shock karena keadaannya itu. Aku ingin bisa membantunya berjalan, menulis, makan dan kegiatannya lainnya. Tapi, aku berjalan disebelahnya saja Za sudah mendorongku jauh-jauh dari Rissa. Za berubah, Rissa berubah, hanya satu orang yang kurasa masih mau berbicara denganku di sekolah ini, Al.
"Hey El! Seperti biasa nanti sore kita berlatih ya!" katanya dengan semangat.
"Aku sedang tidak enak badan. Ingin istirahat" kataku berbohong. Entah mengapa hari ini aku malas, biasanya aku yang semangat. Aku capek dengan semua ini. Aku hanya ingin sendiri. Sendiri mengurung diri.
"Benarkan? Kau terlihat baik-baik saja" kata Al sambil menempelkan jidatnya di jidatku. Seketika itu kelas yang tadinya ramai menjadi diam, tiba-tiba muncul 'kasak-kusuk'. Aku risih mendengar itu semua, aku langsung berdiri keluar kelas dan berlari. Aku tak tahu ingin kemana, tapi aku terus berlari.
Tiba-tiba, aku menemukan sebuah taman indah di belakang sekolah. Taman ini sangat membuat hati terasa nyaman. Udara yang dihirup terasa berbeda, tanah yang dipijak terasa nyaman, pemandangan yang di lihat sangat indah. Aku belum pernah menemukan tempat yang seindah ini. Aku berjalan menuju kursi taman yang berada di tengah bunga-bunga bermekaran. Aku duduk disitu dan menangis. Entah mengapa aku ingin menangis. Namun, isakanku tiba-tiba terhenti karena ada sesorang yang menepuk pundakku. Aku langsung mengusap air mataku dan melihat siapa yang menepuk pundakku. Aku kaget. Sangat kaget. Za dan Ri...ssa? Apa yang mereka lakukan disini? Kenapa tiba-tiba...Za menepuk..pundakku? Aku bingung sehingga aku hanya membisu.
"Hai Laurel" kata Za dingin padaku. Dia bahkan tidak lagi memanggilku El. Za terasa sangat asing bagiku.
"Apa yang kau lakukan disini...Z..za? tanyaku, memanggil namanya saja sudah membuatku gugup.
Za menuntun Rissa untuk duduk disebelahku. Aku duduk dengan kaku sedikit menjauhkan jarak dengan Rissa. Za pun meninggalkan kami berdua. Tak ada yang berbicara saat itu. Hanya terdengar suara air mancur yang berada di depan kami. Aku hanya bisa diam.
"Kamu beruntung ya.......Kamu...kamu bisa melihat indahnya taman ini. Aku? Aku sudah tidak bisa lagi." kata Rissa. Aku hanya menunduk, masih terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa diam.
"Bunga-bunga yang ada disekeliling kita juga indah kan? Aku ingin melihatnya sekali lagi, tapi sayangnya tidak ada kesempatan bagiku untuk melihat lagi" kata Rissa lagi. Aku bingung. Aku bingung jawaban apa yang harus kukeluarkan? Aku tak tahu, oleh karena itu lagi-lagi aku terdiam.
"Kamu memang sangat beruntung. Kamu masih bisa....bisa bersama-sama dengan Alex. Lihat aku, aku perempuan buta. Dulu kami sangat dekat, tapi entah kenapa tiba-tiba ada....jarak diantara kami" kata Rissa. Entah mengapa dadaku terasa sakit. Aku merasa ditipu oleh Al. Di tipu soal apa? Aku tidak tahu.
"Dulu kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku selalu bertanding basket dengannya. Aku cukup jago bermain basket....ya saat aku masih bisa melihat tentunya. Sekarang ini? Kurasa kau pun lebih unggul" kata Rissa lagi. Jadi apa maksud Al sebenarnya? Aku masih tidak bisa mengerti.
Aku hanya diam tertunduk. Mencerna kata-kata Rissa yang entah kenapa menyesakkan dadaku. Berbagai pertanyaan pun mulai muncul dikepalaku, tentu saja pertanyaan tentang Al.
Jadi sebenarnya...........ada hubungan apa antara dengan Al dan Rissa? Apakah aku yang membuat........jarak diantara mereka? Kenapa.....selama ini mereka tidak terlihat dekat? Tentu saja.........aku mengerti sekarang........akulah penyebabnya. Aku adalah seorang perusak.
****
To be continoued.










