Spathodea Campanulata [Part 5]

Part 5

Aku kaget, apa maksudnya? Aku masih tidak mengerti. Aku menoleh kearah Za dan menunduk melihat reaksi Za karena ucapan Rissa. Dia sangat pucat. Dengan cepat, Za langsung menarik tanganku menuju pintu dan mendorongku keluar. Aku hanya menurutinya. Aku bingung. Aku hanya bisa menangis di luar, sebuah pertanyaan besar menghantui kepalaku. Apa maksud perkataan Rissa tadi? Aku mencoba mengingat kata-katanya dan teringat satu nama.....Alex!

Aku berlari menuju ruang olahraga. Ya saat ini sudah pukul 3, aku yakin dia berada disana. Aku menelusuri lorong-lorong loker. Kosong. Ya disini kosong. Lalu dimana dia? Aku mulai putus asa. Sudah sekitar dua jam aku mengelilingi sekolah hanya untuk mencarinya. Tidak biasanya dia menghilang, tidak biasanya ia tidak bersamaku, tidak biasanya.....Ah! Aku ingat suatu tempat, pasti dia disana! Aku pun langsung berlari keluar ruang olahraga, menuju tempat itu. Tempat dimana ia berada. 

****

Lelah. Aku merasa sangat lelah. Ternyata jarak dari sekolah kesini cukup jauh....bahkan sangat jauh.....Atau mungkin lebih jauh dari biasanya....Aku masih harus mencarinya....Tiba-tiba ingatan tentang Rissa membuat tubuhku....terasa kaku....Aku.....aku tidak kuat lagi sepertinya.....

****

"El, kau baik-baik saja? Kenapa kau bisa pingsan? Apa yang terjadi denganmu?" suara Helena terdengar samar-samar di telingaku.

"Helana....apa yang terjadi denganku?" tanya ku dengan bingung.

"Kau pingsan...di dekat lapangan basket. Untung anak itu langsung membawamu kesini" kata Helena menjelaskan.

Aku masih bingung. Apa yang telah terjadi? Aku belum bisa mengingat dengan jelas. "Anak itu? Siapa?"

"Sayangnya aku tidak mengenalnya. Tapi aku merasa sering melihatnya. Tadi dia terlihat terburu-buru. Dia cuma bilang kau harus jaga kesehatan lalu bermain basket lagi. Itu...sedikit aneh. Hahaha" kata Helena sambil tertawa

Aku mencoba mencerna kata-kata Helena. Tiba-tiba aku mengingat semuanya. Aku pingsan karena mencari Al, dan sekarang aku harus menemukannya. Aku langsung bangun, melepas kain basah yang ada dikepalaku dan berlari turun kebawah. 

"El! El! Mau kemana kau? Kau harus istirahat dulu" kata Helena.

"Maaf Helena, ada yang lebih penting dibanding istirahat. Aku hanya pergi sebentar saja. Bye!" kataku cepat dan langsung berlari menuju taman.

 Tapi sore ini taman terlihat sepi. Tidak ada yang bermain, berjalan santai, ataupun olahraga. Seharusnya taman ini ramai setiap sore. Aku duduk di salah satu kursi taman dan menyadari alasan mengapa sore ini terlihat begitu sepi. Matahari tidak muncul, sangat gelap. Padahal ini masih sore. Aku hanya terdiam di kursi taman itu, aku terlalu lelah untuk mencari Al. Helena benar, aku butuh istirahat, aku sangat butuh. Aku hanya bisa duduk, mencoba merapatkan tubuhku. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Setetes air jatuh di hidung ku, namun lama kelamaan tak hanya setetes. Dalam sekejap tubuhku basah kuyup. Hujan turun. Hujan deras. Aku menggigil sampai tiba-tiba kehangatan mulai menyerap ditubuhku namun tidak lama tubuhku terasa dingin lagi. Aku baru mennyadari ada Al disampingku. Dia memberikanku jaket yang sekarang sudah basah terguyur oleh derasnya hujan. Kepalaku sekarang tertutup oleh sebuah payung kecil berwarna hijau. Aku menggigil. 

"Maaf jaketku memang tak membantu. Tapi kurasa ini jauh lebih baik. Apa yang kau lakukan disini?" kata Al sambil menatapku dengan lembut.

"Aku...aku men..carimu" kataku menggigil, bibirku bergetar, kepalaku pusing dan aku lemas.

"El? Kau baik-baik saja? Untuk apa kau mencariku?" tanya Al bingung.

"Ya..aku..men..coba...untuk...ba..i..k..baa..." aku sudah tidak kuat, tubuh ku lemas, aku pun tak sadarkan diri.

****

Aku terbaring lemas di sebuah ruangan yang tak kukenal. Kepalaku terasa sakit. Tubuhku lemas. Aku bahkan tak sanggup mengeluarkan suaraku. Samar-samar kulihat ruangan ini, ini pasti karmar lelaki. Kamar yang di cat merah, perabotan yang sederhana dan berantakan. Dimana aku?

"Kau sudah sadar?" terdengar suara seorang ibu. Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang wanita cantik. 

"Si..ap..a.ka..u?" tanya ku terbata. Suara ku seperti ditahan. Tenggorokan ku terasa sakit.

"Ini kamarku dan dia ibuku" terdengar suara pintu terbuka dan terlihat seseorang yang sangat kukenal. 

"Ke..na...p...." aku tidak sanggup menyelesaikan kata-kataku. Tenggorokan ku sangat sakit.

"Sepertinya tenggorokanmu sakit parah, biar aku ambil kan obat sebentar ya" kata perempuan itu dengan lembut. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Kau sudah gila ya, El? Kau baru saja pingsan lalu berlari ke taman dan membiarkan dirimu terguyur oleh hujan!" kata Al padaku. 

Aku hanya bisa terdiam dan menunduk. Aku tak ingin tenggorokanku tersiksa lagi. Tiba-tiba Al mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku bingung, aku hanya memejamkan mataku. Al menyentuhkan jidatnya ke jidatku. Itu saja sudah cukup membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat, bahkan lima kali!

"Aku tak mengira suhu tubuhmu akan sepanas ini. Kau mengalami demam yang cukup parah. Kurasa demam ini tidak hanya disebabkan oleh guyuran hujan. Ada yang mengganggu pikiranmu, ya kan?" tanya Al. 

Aku menunduk dan akhirnya mengangguk. Al menghela nafas dan mengacak-acak rambutku. Lagi-lagi jantungku berdetak dengan hebatnya. Tiba-tiba pintu terbuka, terlihat ibu Al sambil membawa obat, kali ini ia terlihat berbeda. Ia mengenakan kacamata dan jas putih, menurutku ibu seperti jas seorang dokter. 

"Sedang ada pasien, Mom?" tanya Al.

"Ya, banyak sekali orang yang datang. Sepertinya flu sedang merajalela" kata Ibu Al sambil menyuapi sesendok obat berwarna merah padaku. Aku menelan obat itu dengan susah payah. Obat itu terasa sangat pahit dilidahku. Aku langsung mengambil minum yang sedari tadi dipegang oleh Ibu Al. Aku biasanya orang yang paling menghindari obat, karena menurutku obat tidak berpengaruh apa-apa. Tapi baru kali ini aku merasa lebih enak setelah minum obat. Aku tak tahu karena minum obat atau karena hal lain. Tapi aku merasa sangat lebih baik.

****

Bosan. Ya, saat ini aku sedang duduk sendiri di kelas. Aku sendiri. Aku hanya membolak-balikan buku Biologiku. Rissa sudah mulai masuk sekolah setelah beberapa minggu ia mengalami shock karena keadaannya itu. Aku ingin bisa membantunya berjalan, menulis, makan dan kegiatannya lainnya. Tapi, aku berjalan disebelahnya saja Za sudah mendorongku jauh-jauh dari Rissa. Za berubah, Rissa berubah, hanya satu orang yang kurasa masih mau berbicara denganku di sekolah ini, Al.

"Hey El! Seperti biasa nanti sore kita berlatih ya!" katanya dengan semangat.

"Aku sedang tidak enak badan. Ingin istirahat" kataku berbohong. Entah mengapa hari ini aku malas, biasanya aku yang semangat. Aku capek dengan semua ini. Aku hanya ingin sendiri. Sendiri mengurung diri.

"Benarkan? Kau terlihat baik-baik saja" kata Al sambil menempelkan jidatnya di jidatku. Seketika itu kelas yang tadinya ramai menjadi diam, tiba-tiba muncul 'kasak-kusuk'. Aku risih mendengar itu semua, aku langsung berdiri keluar kelas dan berlari. Aku tak tahu ingin kemana, tapi aku terus berlari.

Tiba-tiba, aku menemukan sebuah taman indah di belakang sekolah. Taman ini sangat membuat hati terasa nyaman. Udara yang dihirup terasa berbeda, tanah yang dipijak terasa nyaman, pemandangan yang di lihat sangat indah. Aku belum pernah menemukan tempat yang seindah ini. Aku berjalan menuju kursi taman yang berada di tengah bunga-bunga bermekaran. Aku duduk disitu dan menangis. Entah mengapa aku ingin menangis. Namun, isakanku tiba-tiba terhenti karena ada sesorang yang menepuk pundakku. Aku langsung mengusap air mataku dan melihat siapa yang menepuk pundakku. Aku kaget. Sangat kaget. Za dan Ri...ssa? Apa yang mereka lakukan disini? Kenapa tiba-tiba...Za menepuk..pundakku? Aku bingung sehingga aku hanya membisu.

"Hai Laurel" kata Za dingin padaku. Dia bahkan tidak lagi memanggilku El. Za terasa sangat asing bagiku.

"Apa yang kau lakukan disini...Z..za? tanyaku, memanggil namanya saja sudah membuatku gugup.

Za menuntun Rissa untuk duduk disebelahku. Aku duduk dengan kaku sedikit menjauhkan jarak dengan Rissa. Za pun meninggalkan kami berdua. Tak ada yang berbicara saat itu. Hanya terdengar suara air mancur yang berada di depan kami. Aku hanya bisa diam. 

"Kamu beruntung ya.......Kamu...kamu bisa melihat indahnya taman ini. Aku? Aku sudah tidak bisa lagi." kata Rissa. Aku hanya menunduk, masih terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa diam.

"Bunga-bunga yang ada disekeliling kita juga indah kan? Aku ingin melihatnya sekali lagi, tapi sayangnya tidak ada kesempatan bagiku untuk melihat lagi" kata Rissa lagi. Aku bingung. Aku bingung jawaban apa yang harus kukeluarkan? Aku tak tahu, oleh karena itu lagi-lagi aku terdiam.

"Kamu memang sangat beruntung. Kamu masih bisa....bisa bersama-sama dengan Alex. Lihat aku, aku perempuan buta. Dulu kami sangat dekat, tapi entah kenapa tiba-tiba ada....jarak diantara kami" kata Rissa. Entah mengapa dadaku terasa sakit. Aku merasa ditipu oleh Al. Di tipu soal apa? Aku tidak tahu.

"Dulu kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku selalu bertanding basket dengannya. Aku cukup jago bermain basket....ya saat aku masih bisa melihat tentunya. Sekarang ini? Kurasa kau pun lebih unggul" kata Rissa lagi. Jadi apa maksud Al sebenarnya? Aku masih tidak bisa mengerti.

Aku hanya diam tertunduk. Mencerna kata-kata Rissa yang entah kenapa menyesakkan dadaku. Berbagai pertanyaan pun mulai muncul dikepalaku, tentu saja pertanyaan tentang Al.

Jadi sebenarnya...........ada hubungan apa antara dengan Al dan Rissa? Apakah aku yang membuat........jarak diantara mereka? Kenapa.....selama ini mereka tidak terlihat dekat? Tentu saja.........aku mengerti sekarang........akulah penyebabnya. Aku adalah seorang perusak.

****






To be continoued.
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Cerpen



Siapa Sahabatku? (Part I)

Karya : Lila Andari

Apa? Paras dan Guste akhirnya jadian? Lalu, bagaimana dengan Mutia? Batinku dalam hati.
“Kapan kamu jadian, Ras? Gimana bisa?” tanyaku pada Paras.
“Tadi malam dia nembak aku. Hehe” Jawab Paras malu-malu.
Aku menengok ke arah teman-temanku yang lain. Hanya ada Lesya dan Silmy disini. Pantas saja tadi Paras langsung menarik tubuhku ketika dia melihat sosok aku di depan pintu kelas. Belum sempat aku meletakkan tas, Paras dengan sigap menarik tanganku menuju lorong di dekat ruang BK dan tiba-tiba mengatakan suatu hal yang membuatku bingung. Aku terdiam.
“Lil? Kenapa? Iya, nanti aku akan coba kasih tau Mutia” kata Paras seakan membaca pikiran yang sedari-tadi membuatku terdiam. 
“Ya jelaslah kamu harus kasih tau dia! Aku gak segan-segan bilang ke dia sekarang kalau kamu berniat menyembunyikan semua ini! Cukup Ras! Dengan kamu kasih tau sekarang aja akan membuat dia sakit banget. Apalagi kalau kamu masih mau menyembunyikan semua ini” kataku yang entah kenapa merasa emosi. Paras hanya menunduk sambil menghela nafas panjang.
“Kamu pasti bisa kok Ras. Aku yakin dan aku percaya sama kamu” kata Silmy berusaha menenangkan Paras.
“Sekarang kita ke kelas aja yuk. Mudah-mudahan Mutia belum datang” kata Lesya seraya berjalan menuju ke kelas.
Akhirnya kami berjalan menuju kelas. Saat ini, sudah pukul 6.20, sepuluh menit lagi bel sudah berbunyi. Jelas saja kelas sudah terlihat ramai. Di depan kelas, sudah terlihat Mutia yang sedang piket. Aku langsung berjalan menuju ke sana. Tiba-tiba Paras menarik tanganku. Aku menoleh dan dia membisikkan sesuatu di telingaku. Aku hanya mengangguk lemas dan berusaha terlihat normal di depan Mutia.
“Pagi Mut, sudah datang dari tadi?” tanyaku sambil tersenyum.
“Iya, kalian kemana aja? Huh, aku sendiri nih  daritadi. Kalian pergi nggak bilang-bilang sih!” kata Mutia  menggerutu.
“Kamu sih datangnya siang. Jadi nggak ikut kita jalan-jalan deh! Hahaha ” kata Lesya sambil meledek Mutia.
“Iya Mut! Kamu tumben datang lebih telat dari Lesya dan Silmy. Mereka kan biasanya datangnya bareng sama bunyi bel! Hahaha” kataku sambil melirik kearah Lesya dan Silmy.
Mutia terbahak-bahak mendengar ledekkanku. Sedangkan Lesya, Silmy dan Paras terdiam. Ledekkan sekaligus sindiranku berhasil membuat mereka membisu. Karena, aku tahu alasan mereka datang lebih pagi dari biasanya. Alasan yang selalu disembunyikan. Atau lebih tepatnya, perasaan yang selalu disembunyikan oleh Paras. 
*****

“Mut, ke kantin yuk. Aku mau beli minum nih” kataku sambil menarik tangan Mutia.
“Eh eh, sebelum kalian ke kantin, Paras mau ngomong sesuatu…” kata Silmy ragu sambil melirik Paras.
“Yaudah. Paras, kamu mau ngomong apa?” tanya Mutia.
“Hmm… ngomongnya di kantin aja deh. Lil, kamu haus kan?” kata Paras sambil melirikku. Aku mencoba mengerti apa maksud lirikkannya itu. Aku hanya bisa mengangguk.
Kami berempat berjalan ke kantin. Aku berjalan lebih dulu bersama Mutia. Aku merangkulnya dan menepuk pundaknya sambil menengok ke belakang. Paras hanya menunduk, sementara Lesya dan Silmy terdiam.  Kami berjalan ke kantin dalam keadaan bisu. Kami sedang berurusan dengan jalan pikiran masing-masing. Kurasa pikiranku, Paras, Silmy dan Lesya tidak akan jauh berbeda. Tentu saja karena hanya Mutia yang tidak tahu soal ini, tapi dia akan  mengetahuinya.
“Mut…” kata Paras ragu, lalu ia terdiam.
“Ya? Kenapa Ras?” tanya Mutia santai sambil melepas dahaganya dengan meminum es yang sedang digenggamnya.
“Aku…mau kasih tau kamu sesuatu. Tapi..kamu jangan marah ya sama aku. Maaf aku baru bisa bilang sekarang…” jawab Paras sambil menatap Mutia lalu menunduk.
Mutia menatap Paras, kali ini air mukanya berubah serius. “Maksud kamu apa? Kok jadi serius gini?” kata Mutia sambil menatap kami satu persatu. Kami semua hanya bisa terdiam.
“Mut, tadi malam….” kata Silmy ragu.
“Apa? Apa yang terjadi tadi malam? Apa yang tidak aku tahu?” tanya Mutia bingung. Lagi-lagi kami terdiam.
“Jadi begini mut…. Tadi malam mantan kamu nembak aku…” kata Paras sambil menatap Mutia.
“Mantan aku? Siapa….? Maksud kamu…….Guste?” tanya Mutia lagi dengan bingung. Ia terlihat terkejut.
“Hmm…. Aku gak bisa bohong lagi sama kamu. Udah cukup perasaan ini aku pendam terus-menerus. Aku juga bisa jatuh cinta, Mut. Aku nggak tau darimana perasaan ini datang. Sebenernya, aku suka sama Guste, Mut. “ jelas Paras panjang lebar.
“Terus……..tadi malam dia nembak kamu? Kamu……terima dia?” kata Mutia. Dia sangat terkejut mendengar pernyataan Paras.
“Iya Mut. Aku…..terima dia. Kurasa, perasan kami sama. Maaf Mut, aku baru bilang sekarang. Aku takut….kamu marah” jawab Paras.
“Oh” jawab mutia sambil berdiri lalu pergi meninggalkan kami. Kami hanya terdiam, Paras terlihat pucat. Sepertinya dia tidak menyangka reaksi Mutia akan separah itu. Aku berdiri menuju kelas. Berniat untuk menghampiri Mutia.
“Lil? Mau kemana?” tanya Lesya.
“Ke Mutia” Kataku singkat sambil menoleh.
“Ikuuuutt!” kata Silmy dan Lesya sambil berdiri mengahampiriku. Paras hanya terdiam. Dia melamun, mukanya masih pucat.
“Ras, kamu nggak ke kelas? Sebentar lagi bel lho!” tanya Lesya pada Paras.
“Iya, nanti aku nyusul. Kalian bertiga duluan aja” Kata Paras berusaha tersenyum. Senyum yang sangat terlihat di paksakan. Aku langsung pergi meninggalkan Paras. Entah mengapa, kali ini aku merasa dia yang bersalah.
Sampai di kelas, aku langsung menuju tempat dudukku. Mutia, teman sebangkuku duduk termenung sambil membalik-balikan halaman buku matematika di depannya.
“Mut, kamu nggak apa-apa kan?” tanyaku pada Mutia.
“Iya, aku baik-baik aja kok” kata Mutia berusaha tersenyum. Senyuman itu mengingatkanku akan senyuman Paras. Senyuman mereka sama, senyuman yang dipaksakan.
“Mut? Jadi kamu maunya gimana? Jangan diem terus gini. Aku tahu kamu sedih, aku juga nggak melarang kamu untuk nangis. Tapi kita mau selesain masalah ini sekarang. Kamu mau persahabatan kita berhenti hanya karena hal ini?” kata Silmy tegas.
Sudah berkali-kali kata-kata itu dilontarkan oleh Silmy. Hanya terdengar isakkan hebat dari Mutia. Kami semua bingung harus bagaimana. Apalagi Paras, dia hanya duduk di belakang bersama Lesya. Terlihat air muka bersalah di wajahnya. Tiba-tiba, Paras berdiri dari kursinya dan menghampiri kami.
“Mut, aku nggak mau persahabatan kita berakhir hanya karena Guste. Mungkin aku memang menyayanginya, tapi aku lebih menyayangi persahabatan kita. Itu lebih dari segalanya buat aku Mut. Aku rela ninggalin Guste demi persahabatan kita kalau itu yang kamu mau. Aku rela” Kata Paras tegas. Matanya yang kini sudah dibasahi air mata membuatnya terlihat pilu. Sedangkan Mutia masih membisu.
“Aku……nggak tahu harus gimana. Aku……” kata Mutia berusaha berbicara. Lagi-lagi kembali terdengar isakkan darinya.
“Apa kamu lupa dulu kita gimana? Apa kamu mau mengakhirinya begitu saja? Apa arti kita berenam buat kamu?” kata Timeh.
Aku dan Lesya hanya bisa terdiam. Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini. Kami akan berakhir? Akankah secepat ini? Rasanya baru kemarin kami bersatu. 

Ya, kami bersatu…………

“Ehhh, kapan nih kita mulai latihan dancenya?” kata Lesya ceria.
“Oh iya, seleksi sebentar lagi ya? Pokonya kita harus tampil di acara pensi itu!” kataku tak kalah ceria dari Lesya.
“Bukannya kemarin seleksinya sudah dilaksanakan ya? Aku melihat beberapa peserta yang berminat untuk tampil. Ternyata tidak hanya kita yang akan menari di atas panggung nanti. Ada kakak kelas VIII yang sepertinya juga terpilih! Kalau tidak salah nama grup mereka……..GOD!” kata Silmy menjelaskan.
“Wah, aku jadi penasaran ingin melihat mereka. Menurut kamu mereka gimana Sil?” tanya Mutia.
“Udah udah, kita nggak usah mikirin mereka dulu. Sekarang kita cari nama grup kita dulu! Yang bagus apa ya……?” kata Lesya yang sedang menopang kepalanya dengan kedua tangannya di meja.
“Gimana kalau…………Gold!” celetuk Paras.
“Apa? Gold? Apa artinya?” tanya Timeh.
Generation Of Ladies Dancer! Gimana? Keren kan? Paras gituuuuu!” kata  Paras sambil berdiri lalu menggandeng tanganku yang berada di sebelah kanannya.
Aku, Lesya, Timeh, Silmy dan Mutia terdiam lalu tersenyum bersama-sama. Aku langsung menggandeng tangan Lesya yang ada di sebelahku begitu juga dengan yang lainnya. Tanpa aba-aba kami semua berteriak dengan serempak, 
“We are GOLD! Generation Of Ladies Danceeeeeeer!”
Ya, aku, Timeh, Paras, Lesya, Mutia, Silmy tergabung dalam sebuah grup dance. Akan tetapi, kami bukan hanya grup dance biasa. Persahabatan yang telah kami jalin selama kurang lebih satu setengah tahun, membuat kami merasa lebih dari sebuah emas biasa.
*****
Hai, aku Lila. Seorang gadis yang sedang belajar untuk jadi dewasa. Ya, umurku 14 tahun saat ini. Aku sedang duduk dibangku kelas IX. Mungkin aku bukan gadis yang pintar. Tapi aku bersyukur dengan hidupku saat ini. Bersama kedua orang tuaku, saudara-saudaraku, dan tentunya sahabat-sahabatku yang membuatku merasa beruntung.
 Aku juga merasa sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari GOLD, tapi bukan berarti aku sudah bukan bagian dari GOLD. Aku tak mengerti sekarang apa artinya diriku bagi mereka. Persahabatan kami tidak seindah dulu lagi. Aku tidak tahu apa penyebab semua ini terjadi. Saat ini, aku mencoba menjalani hari-hariku bersama Tisa dan Mutia. Kedua sahabat yang selalu ada untukku.

“Lilaaaaaa! Beda kelas sama kamu nggak enak ya! Kita jadi jarang bercanda dan nyanyi bareng deh!” kata Lesya yang menyambutku saat aku menghampirinya di kelas.
Ya, saat ini aku sudah tidak lagi sekelas dengan Lesya, Timeh dan Paras. Di kelas IX, aku sekelas dengan Mutia dan Silmy. Mengapa aku tidak lagi dekat dengan Silmy? Aku tidak tahu pasti. Tiba-tiba ada jarak diantara kami, dan aku berusaha tidak memikirkan itu.
“Iya, aku kangen bercanda sama kamu! Huh, seandainya kita sekelas lagi ya Les!” kataku pada Lesya sambil kembali menyuap nasi goreng yang ada di tanganku.
“Kamu masih mending! Aku sekelas sama Lila cuma kelas 7 aja!” kata Timeh nimbrung.
“Tapi masih enakan jadi kamu Meh! Kalau sekelas sama Lila nih ya, kamu harus pakai penyumbat telinga tiap hari! Gimana gak pusing, suaranya aja udah lebih dari 8 oktaf!” kata Paras meledekku.
“Hahaha, kalau begitu masih enakkan kalian bertiga! Lah aku? Tiga tahun sekelas sama dia! Sebangku terus lagi! Gimana aku nggak budek!” ledek Mutia yang berhasil membuatku cemberut.
“Lil? Jangan cemberut gitu dong! Nanti tambah mekar itu hidung!” kata Paras disusul dengan tawa dari Lesya, Timeh dan Mutia.
“Ih! Awas ya kalian semuaaa!!” pekikku kencang sehingga membuat mereka menutup telinga masing-masing.
*****



Halow. Hehe. Gue cuma mau nge-post cerpen ini. Ini kisah nyata loh. Sebenarnya gak ada niatan buat bikin cerpen, tapi karena ini tugas jadi ya harus deh dan niat iseng gue pun muncul buat masukin cerpen ini ke blogku tercintah hehehehe~ Oh iya ini baru part 1 nya lohh. Lanjutannya setelah post ini ya. Wait a second! Nanti juga muncuuul. Semoga kalian sukaa! ;3







http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Sejarah si Pensil

Nah.........anak-anak ayo kita belajar sejaraah!
Kalian ini postingan gue tentang sejarang dari...dari...dari pensil!
Kita kan hampir tiap hari make yang namanya pensil. Nah sekarang saatnya belajar sejarahnya!
Kalian tau gak asal usul pensil tuh kayak gimanaa?
Bahannya apaaa?
Ini nih yang namanya Papirus
Yang bikin siapaaa?
Nahhhh! Mau tau gak? Mau?Mau?Mau?
Kalo gitu kita langsung cekidooott!

Jadi awalnya gini nih........................
Di zaman romawi kuno, para pemuka agama menulis di papirus dengan menggunakan stylus. Papirus ini nih yang jadi awalnya dari pembuatan kertas. Papirus ini terbuat dari tanaman gitu, sejenis alang-alang yang namanya juga papirus. Nah sedangkan stylus terbuat dari batang logam timah yang tipis. Nah, kalo stylus di goresin ke papirus, jadi ada kayak goresan tipis. Tapi masih keliatan kok


Nah, abis dari stylus baru deh ada pencil. Sebenernya pencil itu perkembangan dari stylus. Konon pada tahun 1564 di Borrowdale, Inggris ditemukan tambang grafit yang cukup besar. Penduduk setempat make itu buat nandain domba-domba gitu. Coretan grafit ini nih sangat jelas tapi kekurangannya grafit itu sifatnya lembut dan mudah rapuh, jadi menyulitkan pemeganggnya.
Nah biar mudah dipegang, batang grafit yang mudah rapuh ini dililit dengan tali ataupun di jepit dengan kayu. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1565, grafit itu baru deh dimasukan kedalam kayu yang udah dibolongin. Nahh! Itu awal mulanya terciptanya pensil.

Kalian pasti pernah kan ngisi yang namanya LJK (Lembar Jawaban Komputer) kan? Untuk ngisi itu pasti disuruh pake pensil 2B. Kalian tau gak sih apa arti dari 2B di pensil itu?
Jadi gini, kamu-kamu semua yang ada disini pasti pernah make pensil yang keras dengan goresan tipis dan sebaliknya kamu juga mungkin nulis pake pensil yang empuk dan hasilnya tebal.
Nah, tebal-tipis dan keras-empuknya pensil itu ada ukurannya. Ukuran ini biasanya ada di sisi ujung pensil dan 2B itu salah satu ukurannya. Tapi ada juga pensil gak nggak punya tanda, pensil itu sih biasanya HB
Ukurannya pensil mah banyak! Kalo mau tau ukuran lainnya, liat nih di tabel bawah ini!

Nah, dari tabel itu juga udah keliatan yang mana yang lunak, sedang dan keras.
Sekarang, apa sih artinya ukuran itu? 
Huruf "H" kependekan hari kata "Hard" yang artinya keras *yaiyalah-_-* Semakin besar angka didepan huruf "H", maka semakin keras pensil itu dengan hasil goresan yang semakin tipis. Sedangkan huruf "B" itu singkatan dari "Black" yang artinya...............................hitam. Zzz rada gak enak ya guys -_- #curhat
Sama kayak tadi, jadi semakin besar angka di depan huruf "B", semakin hitam dan tebal goresan yang dihasilkan.

Sekarang, udah tau kan sejarahnya pensil? Abis ini gue punya fakta unik tentang pensil! Gak usah basa basi langsung aja nyook! Cekidooottt!

Fakta Menarik Tentang Pensil

  • Kata pensil itu berasal dari kata latin pencillus yang berarti ekor. Mungkin karena bentuknya bulat panjang, ya, seperti ekor
  • Pensil yang digoreskan akan meninggalkan bekas. Why? Karena butiran butiran grafit yang besarnya satu per ribuan milimeter menempel pada benda berserat giduuuu
  • Sebuah pensil rata-rata cukup untuk menulis 45.000 kata. Atau menggambar garis sepanjang 56km......gileeeee. Tapi gue gak pernah tuh yang namanya pensil sampe abis, masih panjang juga biasanya udah ilang -_- #curhat
  • Lebih dari 14 juta pensil di produksi tiap tahun di seluruuuhhhh duniaaaaaaaa *lebay Jika 14 juta pensil itu dibariskan memanjang, barisan pensil itu bisa melingkari bumi sebanyak 62 kali........kalo ini harus bilang WOW :O *apabgt
  • Sebuah pohon yang besar, kayunya ini cukup untuk membuat 300.000 buah pensil
  • Pada tahun 1850 pensil dilengkapi dengan penghapus dari karet. Orang yang punya ide untuk menggabungkan pensil dengan penghapus adalah Joseph Rechendorfer
  • Pensil termahal di dunia harganya E9000 atau sekitar Rp. 108.000.000. Kedua ujung pensil ini diberi penutup yang terbuat dari logam yang mahal dengan hiasan berlian. Beehhhh!

Okeee segini aja duluuuuu~
Sering-sering kesini yaaa, semoga nambah ilmu ;3
Papaaaay<3
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Santolo Beach? Yeaahh! \m/

Helaaawwww~
I'm comeback! Udah kangen yaa? :3
Kali ini postingan gue bakal tentang pantai looh!
Namanyaaaaaa.........
Santolo Beaaaacchhh! *hening*
Eh pada gak tau ya? Masa sih? Ciyus? Cumpah? Enelan? *krik...krik...krik*
Santolo Beach itu letaknya di Pameungpeuk, Garut. Ini pantai tuh kereeeen bangeeet! Gue udah pernah kesana sama keluarga yang tercintah ;D
Rasanya pengen kesana lagi!

Apa yang terbenak kalo denger kata 'Pantai Santolo'? Tentu saja Pasir Putih! Ya, pantai santolo itu pasirnya putih dan ombaknya tuh mantep bangeeet! Yaa karena ada di jabar tentunyaa. Beehhhh! Pokoknya gak bakal nyesel deh liburan kesini!
Lagipula, indahnya pantai ini gak kalah kok sama yang dibali! Nah, kalian tau gak? Ternyata pantai ini itu termasuk pantai unik di dunia! Kenapa? Kenapa? Kenapaaaa?
Karena...........................di pantai ini justru air laut yang mengalir ke sungai, bukan sebaliknya! Gak percaya ya? Nih ada buktinya.....

Tuh kan.......! Foto ini diambil dari arah muara. yang yang lebih tinggi itu lautnya. Nah, kalian pasti tau kan, air itu ngalir dari tempat yang tinggi ketempat yg rendah. Kalo lautnya lebih tinggi, jadi bener dong teori unik kalau air laut itu yang ngalir ke sungai! Huehehehe bener kan gueee? :p
Sebagian orang menamakan tempat ini dengan curug. Karena ada turunan yang menyeruapi curug dari atas kebawah. Naahhh kalau kalian mau liat curug itu, kalian bisa nyewa kapal tongkang. Gak terlalu mahal kok~
Jadi harusnya sih kalau kalian kesini kalian juga liat curug!
Kalo mau ke pantai Santolo sih paling naik mobil, lumayan jauh dan kalo lancar sekitar 3,5 jam lah  dan.......jalanannya rada ekstrim gitu. Dua adek gue lomba banyakan muntah coba, tapi mereka emang kampungan sih wkwkwk *ampun maakkk*
Rasa lelah dalam perjalanan pasti terbayar deh kalau kalian udah liat yang namanya pantai santolooo! Beehhhh! Pantai yang luas, ombak yang seruuuu, cukup bersih dan enaknya nih yaa, pantai ini tuh gak terlalu ramai! Pokoknya ini pantai recomended bangett!
Nah......kalo mau ketempat yang lebih sepi kalian bisa jalan ke arah timur pantai menyusuri garis pantai yang panjaaaaang. Disana tuh ya kalian bisa nikmatin suasana sendirian cuma bareng samudera biru, ombak, dan pasir putih!
tuhkan kece banget pantainyaaaa;3

Hasembrruwwwww jadi pen kesana lagi u.u
Pemandangannya itu nyegerin mata bangeettt. Pokoknya yang paling keyen itu kalo liat ombak yang kejar-kejaran. Disini tuh bukan sembarang ombak! Waktu itu gue duduk di pantai berempat sama kakak dan adek-adek gue. Nunggu deburan ombak gitu. Kalo udah deket kita pegangan bareng-bareng. Pokoknya seruuuuu. Tapi harus hati-hati jugaaa loh kawaanndddd ;D

Okeeyyyy, kayaknya segini aja dulu yaaa
Semoga bermanfaat post gue kali ini!
Byeeee{}
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Spathodea Campanulata [Part 4]

Part 4


Tugas kami sudah selesai. Saat ini sudah pukul 4 sore. Za sudah siap-siap untuk pulang ke rumah. Kami menuruni tangga. Seperti biasa rumahku terlihat sepi. Kami menuju luar.Kami terus membicarakan tugas kami saat Za sedang mengikat tali sepatunya. Tiba-tiba ada suara dari luar yang sepertinya memanggilku. Aku melongok-longokkan kepalaku karena orang itu tidak terlihat. Tapi Za melihatnya dan dia terlihat kaget. Siapa yang orang itu?

Aku berusaha untuk tidak memerdulikan reaksi Za dan berjalan menuju keluar. Ternyata orang itu adalah Al! Beribu pertanyaan menghampiri benakku. Kenapa Za terlihat begitu kaget? Dia tidak mengenal Al bukan? Apa maksud dari reaksi Za itu? Aku terlamun.

"El! El! Ada apa dengan mu?" tanya Al

Eh, eh tidak apa-apa." kataku kaget.

"Kau sedang apa? Ayo kita latihan!" tanya Al dengan ceria.

"Aku baru saja menyelesaikan tugasku. Hah? Latihan apa?" jawabku dengan bingung.

"Tentu saja berlatih basket. Kau sudah merasa hebat ya? Hahaha" kata Al sambil meledekku.

"Hemm..Okey! Wait a minute Al" kataku membalikkan badan dan tersontak melihat wajah pucat Za.

"Za...? Kamu kenapa?" aku bingung.

"Al....ex? Apa... ya..yang kau la..kukan di...disini?" kata Za terbata-bata.

"Kalian sudah saling kenal? Aku tidak tahu kalau Za mengenalmu Al." kataku sambil melihat keaarah Al

Al sempat terlihat kaget melihat Za, lalu dia berkata, "Ya, kami...kami sudah lama saling kenal"

"Wow! Itu hebat, dua sahabatku bahkan sudah saling kenal. Dunia memang sempit ya" kataku sambil melihat mereka berdua.

Za menunduk. Terdengar isakan dari dirinya. "Za, Za? Kau menangis? Ada apa?"

"Menangis? Tidak. El, maaf sepertinya aku harus pulang. Sekarang sudah semakin sore, orang tua ku pasti khawatir." katanya sambil berjalan pergi. Aku tahu ia menangis, ya aku tahu. Tapi aku tak tahu mengapa ia menangis.

"El, kurasa latihan kita sore ini harus di tunda. Aku lupa ada tugas yang belum kukerjakan. Bye!" kata Al menghamburkan lamunanku. Dia langsung berlari menjauh, Ada apa dengan kedua orang itu? Tadi mereka baik-baik saja. Apa yang salah?

****

"Zaaaaa, ke kantin saja yuk! Kau terlihat lemas hari ini. Aku belikan kau makan deh!" kataku sambil membujuk Za.

"Tidak aku mau disini saja El. Thanks" kata Za lagi-lagi menolak.

"Kamu kenapa sih? Hari ini kau sangat diam. Ada apa?" tanyaku khawatir. Za tidak biasanya begini. Ia pasti meloncat kegirangan bila ku traktir makan. Badannya tidak panas, bahkan ia tidak terlihat pucat. Tapi ada sesuatu yang aneh dimatanya. Entah mengapa tatapannya terlihat kosong hari ini.

"Aku mau disini" katanya singkat.

"Tidak! Pokoknya kamu harus ikut aku sekarang!" kataku sambil berusaha menarik tangannya. Awalnya, tangan Za sempat menolak ajakanku, tapi akhirnya ia mengalah.

Aku berjalan melewati lorong kelas. Aku tidak menariknya menuju kantin. Aku menariknya ke ruang musik. Ya, ruang musik dimana piano berada. Ya kurasa aku butuh piano sekarang. Kamui akhirnya sampai. Aku langsung menariknya kesudut ruangan, tentunya kearah piano. Aku duduk di kursi piano bersama Za, membuka tutup piano tersebut. Aku mulai memainkan tuts-tuts piano itu.

"Apa yang kita lalukan disini?" tanya Za.

"Just watch and listen" kataku padanya.

Setelah intro selesai, aku pun mulai bernyanyi

Oh, why you look so sad?
Tears are in your eyes
Come on and come to me now
Don't be ashamed to cry
Let me see you trough
'cause I've seen the dark side too
When the night falls on you
You don't know what to do
Nothing you confess
Could make me love you less
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let no body heart you
I'll stand by you
So if you're mad, get mad
Don't hold it all inside
Come on and talk to me now
Hey, why you got to hide?
I get angry too
Well, I'm a lot like you
When you're standing at the crossroads
And don't know which path to choose
Let me come along
'cause even if you're wrong
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you
Take me in, into you darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you
And when...
When the night falls on you, baby
You're feeling all alone
You won't be on your own
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you
Take me in, into you darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let no body hurt you
I'll stand by you
Won't let no body hurt you
I'll stand by you

Terdengar isakan yang cukup menyesakkan dadaku. Za menangis. Aku bingung harus melakukan apa, akhirnya aku memeluknya dan tangisannya mulai mereda.

"El.....I'm sorry. I still....can't tell..tell you about it" kata Za masih terisak.

"It's okay Za. Aku akan mencoba mengerti" kataku sambil tersenyum pada Za

"Thanks El. Thank you so much. I love your song and your vioce too." kata Za balik tersenyum.

"My pleasure Za. Ayo kembali ke kelas" kataku sambil berdiri menarik tangan Za.

"Aku ingin bolos El. Sekali ini saja. Kamu mau nemenin aku disini?" kata Za tersenyum jahil.

"Tentu saja" kata ku kembali duduk di kursi piano dan memainkan tuts piano seperti tadi. Lagu I'll Stand by you yang dinyayikan oleh The Pretenders pun mengalun di ruang musik siang itu.

****

Huuuhhh! Lagi-lagi Al berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Aku sudah lelah, aku hanya bisa memperhatikan Al yang sedang mencoba three point dan bola masuk dengan tepat, aku bertepuk tangan dengan lemas dan duduk ditengah lapangan. 
"Capeekk. Ayolah Al kita istirahat dulu. C'mon!" kataku pada Al.

"Dasar payah!" kata Al sambil duduk di sebelahku.

"Eh iya Al. Hari ini Za sudah kembali ceria. Aku senang melihat dirinya yang dulu kembali" kataku sambil tersenyum menatap langit senja.

"Oh, baguslah" kata Al dengan singkat sambil berdiri dan mulai mendrible bola. "Ayo kita mulai latihan lagi!" kata Al tersenyum.

"Baiklah" kataku sambil menghela nafas. Aku langsung mengerjar Al. Berusaha mengambil bola darinya namun tiba-tiba kakiku di injak oleh Al dan aku kehilangan keseimbangan. Aku tak tahu apa yang terjadinya.  Tubuhku terjatuh, tapi aku tidak merasa sakit sama sekali. Aku baru menyadari apa yang terjadi setelah aku membuka mataku. Terlihat wajah Al yang membuat ku malu sekaligus merasa nyaman. Aku tidak tahu kenapa tapi aku....aku...kurasa aku menyukainya. Ya, aku menyukai Al.

"El? Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" kata-kata dari Al membuyarkan lamunanku. Dan kata-kata itu pun menyadarkanku kalau sekarang tubuh ku di topang oleh Al. Mukaku berubah drastis setelah menyadari hal itu. Aku pun langsung berdiri.

"Y..a..ya aku..aku ba..ik baik saja...Al. Mak...makasih" kataku gugup.

"Anytime for you El" kata Al kemudian. Entah mengapa, setelah aku mendengar kata-kata dari Al, mukaku terasa panas. Aku merasa...merasa malu. Aku tak tahu kenapa.

****
Di tengah kebahagian El dengan Al. Ia tidak menyadari akan ada bencana yang melanda dirinya karena Al. Ada sepasang mata yang panas memerhatikan mereka. Sepasang mata yang kini membenci El. Sepasang mata yang tidak akan pernah melihat mereka berdua lagi.

****

Aku berjalan menuju lorong sekolah dengan santai. Terkadang aku melemparkan senyumanku kepada beberapa orang yang kukenal. Aku menuju lokerku dan mengambil buku sejarah, pelajaran pertama hari ini. Ketika menutup lokerku, seperti ada mesin waktu yang berputar di otakku.

-Flashback

Seorang cowok tinggi, bermata coklat, dan berambut hitam kecoklatan. Dia menggunakan pakaian yang santai tapi sopan. Aku memperhatikannya beberapa saat sampai dia menutup lokernya dan menyadari aku sedang memandanginya. Aku kaget dan langsung menutup lokerku lalu mengajak Za kembali ke kelas. Aku dan Za berjalan melewati lorong menuju ruang lab. Tiba-tiba lelaki yang sedari tadi ku perhatikan berjalan menyenggolku dan buku biologiku terjatuh. Dia kaget dan seperti sedang terburu-buru.

"Oh sorry! Aku tidak sengaja. Aku buru-buru." katanya sambil membantuku mengambil buku

-Back

"El! El! Kau tahu Rissa kan? Dia kecelakaan!" tiba-tiba Za menepuk pundakku dan membuyarkan lamunanku. Seketika ingatan tadi hilang dengan sekejap. Aku bingung, sepertinya aku pernah mengalami itu, tapi aku tidak ingat kapan, dimana, dan siapa laki-laki itu.

"El! Kau dengar aku tidak?" kata Za lagi.

"Apa? Aku tidak dengar" kataku padanya.

"Rissa El! Rissa kecelakaan!" Za terlihat panik.

"Rissa teman sekelas kita? Kapan?"

"Iya! Rissa siapa lagi? Kemarin sore, dia kecelakaan di dekat komplek perumahanmu!" kata Za.

"Sekarang....sekarang di mana dia?" tanyaku.

"Dia masih dirumah sakit. Aku belum tahu perkembangannya. Tapi kemarin malam dia belum sadar" kata Za sambil menghela nafas. "Saraf matanya terluka.....aku tidak tahu, saat sadar nanti dia bisa melihat kita lagi atau tidak" kata Za lemas. Aku kaget, dadaku menyesak. Selama ini, aku tidak pernah mendapati temanku kecelakaan sampai separah itu.

"Ayo kita kesana Za! Aku ingin melihat keadaannya!" kataku sambil menarik tangan Za menuju rumah sakit.

****

"Apa yang kau lakukan disini? Pergi! Pergiii!" Rissa mencoba memukulku yang tidak terlihat olehnya.

"Rissa, kau kenapa? Aku hanya ingin...ingin melihat keadaanmu" kataku sedikit takut.

"Kau....kau dan Alex yang membuatku seperti ini. Aku membencimu! Pergi sana! Pergii!" kata Rissa. 

Aku kaget, apa maksudnya? Aku masih tidak mengerti. Aku menoleh ke arah Za dan menunduk melihat reaksi Za karena ucapan Rissa. Dia sangat pucat. Dengan cepat, Za langsung menarik tanganku menuju pintu dan mendorongku keluar. Aku hanya menurutinya. Aku bingung. Aku hanya bisa menangis di luar, sebuah pertanyaan besar menghantui kepalaku. Apa maksud perkataan Rissa tadi? 

****

To be Continoued!
Thanks for reading it!
Write your comment here or on my twitter, please.
My twitter? @lilaandari
Thanks :D
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Perahu Kertas

Haaaaiiiii~
Kalian pasti tahu kan film perahu kertas? Gimana? Keren kan?
Beeehh! Gue suka banget sama film itu! Apalagi novelnya!
Pokoknya nih ya menurut gue, kalian-kalian yang suka film itu KUDU WAJIB HARUS baca novelnya jugaaaa :D

Oke, sekarang kenapa saya Lila Andari Hidayat cewek paling kece dan susah mmmmm *sensor* ini ngasih judul entri kali ini "Perahu Kertas"?
KARENA.......*jengjeenggg*
"Ya gapapa sih mau iseng aja abis gak tau mau nulis apa lagi" jawab lila dengan kece. Huahahaha maap ya ente narsis -_-v

Enakan bahas film atau novelnya ya? Film nya aja dulu kali yaa :D


Nahhh, perahu kertas itu dibagi jadi dua film, film yang pertama udah lama keluar. Bahkan mungkin udah jarang kali ada di bioskop sekarang. Nah kalo film kedua baru bakal keluar 4 oktober ini nih, gue aja pernasaran banget hihihi. Pokoknya tanggal 4 serbu bioskoooppp! Hahaha

Oke sekarang kita bahas sinopsis nya dulu!

Tokoh utama film ini adalah sepasang anak muda yang saling mencinta #eeaaa namanya Kugy yang diperankan oleh Maudy Ayunda dan Keenan yang di perankan oleh Adipati Dolken. Mereka cocok lohhh hehehe. Mereka ini ketemu di Bandung ketika mereka kuliah

Kugy punya cita-cita dia pengen jadi penulis dongeng. Oh iya Kugy juga punya kebiasaan aneh, yaitu menghanyutkan perahu kertas di aliran air. Sedangkan Keenan cowok yang jago ngelukis tapi dipaksa masuk Fakultas Ekonomi sama ayahnya.

Nah disini ceritanya Kugy, Keenan, Noni yaitu sahabat Kugy dari kecil dan Eko yang juga sahabat Kugy dan meruapakn sepupu Keenan, menjadi geng yang sangat kompak. Dari situlah, mulai tumbuh rasa cinta diantara Kugy dan Keenan. Tapi berbagai hal menghalangi mereka. Gak cuma itu loh, bahkan persahabatan Kugy dan Noni pecah ketika Kugy yang tidak ingin sakit hati tidak menghadiri acara ulang tahun Noni yang di adakan dirumah Wanda.

Keenan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bali, dia menetap dirumah teman lama Lena pak Wayan namanya. Beliau juga menjadi mentor Keenan dalam melukis. Karena Keenan galau, dia jadi gak bisa ngelukis, buntu. Semnagat Keenan balik lagi karena Luhde (keponakan pak Wayan) menyemangatinya. Sampai akhirnya Keenan punya pembeli pertama yang bernama Remi.

Karena Kugy ingin cepat-cepat meninggalkan Bandung,  Kugy berjuang untuk cepat lulus. Begitu lulus, kakak Kugy lah yang membantunya mencari pekerjaan dan akhirnya Karel (kakak Kugy) nyuruh dia magang di biro iklan bernama AdVocaDo milik temannya, Remi. Lama kelamaan, karena prestasi Kugy yang cemerlang tanpa ia sadari, Remi menyukainya.

Nah segitu aja ya sinopsis nya, sekarang kita liat pemain-pemainyaaaa!!!
1. Kugy-Maudy Ayunda
2. Keenan-Adipati Dolken 
 3. Remi-Reza Rahardian

4. Luhde-Elyzia Mulachela

 
    Okeedehhhh, segini aja dulu yaaa. Byee :*








http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

Call Me Maybe

Haaaaaaaiiiiiiii
Lagi syeedihhh nihhh. Viewers nya anjlookk bangettt :"""""""[
Gini aja deh, sekarang gue mau nge-post lirik lagu.
Semoga pada suka lagunya terus banyak yang mampir kesini lagi yaaaaa :)
Mending sekarang kita langsung nyanyi. Yuk mareehhh~

Call Me Maybe-Carly Rae Jepsen

I threw a wish in a well,
Don't ask me, I'll never tell
I looked to you as it fell,
And now you're in my way

I'd trade my soul for a wish,
Pennies and dimes for a kiss
I wasn't looking for this,
But now you're in my way

Your stare was holdin',
Ripped jeans, skin was showin'
Hot night, wind was blowin'
Where you think you're going, baby?
 
Chorus:
Hey, I just like you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?
It's hard to look right,
At you baby,
But here's my number,
So call me, maybe?
Hey, I just like you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?
  And all the other boys,
Try to chase me,
But here's my number,
So call me, maybe?

You took your time with the call,
I took no time with the fall
You gave me nothing at all,
But still, you're in my way

I beg, borrow and steal
At first and it's real
I don't know I would feel it,
But it's in my way

Your stare was holdin',
Ripped jeans, skin was showin'
Hot night, wind was blowin'
Where you think you're going, baby?

*back to chorus

Before you came into my life,
I missed you so bad (2x)
I missed you so, so bad

Before you came into my life
I missed you so bad
And you should know that
I missed you so, so bad

It's hard to look right,
At you baby,
But here's my number 
So call me, maybe?

Hey, I just met you,
And this is crazy,
But here's my number,
So call me, maybe?

And all the other boys,
Try to chase me,
But here's my number,
So call me, maybe?

Before you came into my life,
I missed you so bad (2x)
I missed you so, so bad

Before you came into my life 
I missed you so bad
And you should know that

So call me maybe?

Okeeee segini aja dulu yaaa
Byee mwah :*;3



 
 


 
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png

"Spathodea Campanulata" [Part 3]

 Part 3

Saat ini sudah pukul 5 sore. Aku melihat langit jingga yang indah di luar sana. Sampai mataku tertuju pada sesosok lelaki yang berdiri di depan rumahku. Dia sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia menggunakan kaus oblong dan celana pendek serta sepatu olahraga.Di tanggan kanannya terdapat sebuah bola baslet sedangkan di tangan kirinya terdapat botol mineral yang sudah dihabisi setengahnnya. Namun, aku baru menyadari kalau sepertinya dia orang yang pernah kulihat. Kepalanya melongok-longok seperti mencari sesuatu. Siapa dia?

Aku berjalan keluar menghampirinya. Dia belum melihatku dan masih melongokkan kepalanya ke arah rumahku. Dia tidak menyadari aku menghampirinya. Ternyata dia bertubuh tinggi dan kurus. Rambutnya hitam kecoklatan dan warna matanya coklat.....Ya! Aku pernah melihatnya. Loker nomor 14! Ya! Dia adalah lelaki yang membuatku pingsan. Aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya.

"Apa yang kau lakukan disini? Sedang mencari sesuatu?" tanyaku padanya.


"Hey! Sejak kapan kau berada disini?" katanya kaget

"Kenapa kau tidak melihatku sama sekali? Kurasa aku berada disini sejak 5 menit yang lalu" kataku santai


"Oh ya? Aku terlalu sibuk mencari sepertinya" katanya lagi


"Apa atau siapa yang kau cari?" aku penasaran


"Aku kesini untuk mencarimu!" katanya sambil menggenggam tanganku.


Aku menyerngitkan dahiku. Seketika aku tidak sadar dia sedang menggenggam tanganku. Aku langsung menarik tanganku. Kurasa mukaku menjadi merah padam. Aku menunduk dan berusaha memberanikan diri lagi.


"Aku? Untuk apa kau...mencariku? Aku bahkan tidak umm... mengenalmu" kataku bingung.


"Aku ingin bermain ini bersamamu? Ayo!" katanya sambil menyodorkan bola basket kepadaku.


"Tidak mau. Aku lelah. Aku ingin istirahat!" kataku sambil membalikkan badanku dan berjalan kembali kerumah


"Oh, sepertinya bukan karena kau lelah. Aku tau kau payah bermain basket!" ledeknya.


"Siapa bilang? Oke! Akan ku tunjukan padamu. Ayo menuju ke sana!" kataku sambil berbalik badan lalu menunjuk taman di komplek perumahanku


"Kau berani melawanku? Oke. Tapi bagaimana kalau kita berkompetisi dari sekarang?" tanyanya dengan muka menantang.


"Apa maksudmu?" tanyaku


"Kita berlomba lari sampai taman! Bagaimana?" katanya dengan semangat


"Oke. Satu dua tiggg..." belum selesai kuhitung aku langsung berlari. 


Dia bingung dan berusaha mengejarku. Kami berlomba menuju taman yang tidak terlalu jauh. Tentu saja aku sampai duluan di taman.


"Hey! Kau curang. Kau berlari lebih dulu. Kau mencuri start!" katanya sambil tersengal-sengal.


"Hahaha, yang penting sekarang aku lebih unggul darimu!" kataku sambil tertawa


"Kau baru unggul satu poin! Jangan sombong dulu. Ayo kita mulai tanding lagi!" katanya semangat


"Tunggu, kita sudah lomba lari dan sekarang kita ingin main basket, kan?" tanyaku yang langsung  di jawab dengan anggukan darinya


"Tapi, bagaimana mungkin aku tidak tahu namamu?" kataku lagi


"Oh ya, aku lupa. Maaf. Aku Alex dan aku tahu nama mu. Kau Laurel kan?" katanya


"Alex? Oh oke salam kenal Al..ex" aku terbata saat menyebutkan namanya


"Salam kenal Laurel!" katanya sambil menjulurkan tangannya tanda mengajak bersalaman.


"Bagaimana kau tahu namaku, Al..ex?" lagi-lagi ku terbata.


"Kurasa kau adalah tetangga baruku. Kau anak Mr.Plummer kan? Ayahku yang mencarikan rumah baru untuk kalian." jelas Alex


"Jadi ayahku mengenal ayahmu? Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu?" kataku bingung


"Kurasa sekarang kau mengenalku" katanya sambil tersenyum


"Al..ex? Bolehkah aku memanggilmu....um..Al?" tanyaku ragu.


"Al? Umm.. Boleh juga!" katanya

"Okay Al! When will we start our game?" kataku sambil melirik Al.

"Right now!!!" kata Al sambil mulai mendrible bola. 

****

Kami bermain basket sampai sore. Tak terasa matahari telah meninggalkan kami. Aku kalah telak dari Al. Ternyata dia adalah pemain yang hebat.Meskipun aku merasa sangat lelah, aku tidak akan melupakan sore ini. Ya, aku menyukai hari ini tepatnya sore ini. Hari dimana aku bertemu Al, berkenalan dengan Al sampai aku bermain dengan Al. Kurasa hari ini pikiranku dipenuhi oleh Al. Aku bahkan merindukan Al sekarang! Aku tidak tahu pikiran apa ini, atau boleh dikatakan 'rasa' apa ini?  Oh god, what happened with me?

****
Aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah meminum segelas susu, aku langsung berangkat. Ketika aku sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Saat itu pun rasanya ada yang bergejolak dihatiku.Siapa lagi kalau bukan Al, ya Al menepuk pundakku! Rasanya aku ingin bersorak tapi aku menahan reaksi aneh itu.

"Hey, Morning El!" katanya tersenyum padaku.

"Morning Al!" kataku membalas dengan senyuman termanisku.

"Kurasa kemarin kau kalah telak. Jadi mulai saat ini kau harus......" kata Al.

"Maksudmu? Harus apa?" kataku memotong pembicaraan Al.

"Harus belajar basket dengan si jagoan ini!" katanya sambil membusungkan dada.

" Huh.. dasar norak!' kataku sambil berjalan meninggalkannya.

"Hahaha, Sorry sorry El! Cuma bercanda kok" katanya sambil mengejarku.
 
"Terserah deh! Aku duluan ya, buru-buru nih. Bye!" kataku sambil berjalan meninggalkannya.

Sampai di kelas, sudah terlihat Za yang sedang mengobrol salah satu teman sekelasku yang belum kukenal. Aku pun menghampirinya.

"Morning Za!" kataku sambil menepuk pundaknya.

"Hey El! Morning, bagaimana keadaanmu?" katanya.

"Aku sudah baikkan kok" aku tersenyum padanya.

"Syukurlah. Oh ya, kau belum kenal dia bukan?" tanyanya padaku.

"Tentu saja belum. Hari pertamaku kuhabiskan di ruang kesehatan sepertinya" jawabku dan mereka semua tertawa

"Benar juga ya, Namamu Laurel kan? Aku Marissa, panggil saja Rissa." kata seorang perempuan yang sedang duduk di depan Za.

"Oh ya, salam kenal Rissa. Kau bisa memanggilku El kalau kau mau" kataku seraya tersenyum.

"Salam kenal juga El" Rissa tersenyum padaku.

****

Siang ini terasa sangat panas. Aku dan Za pulang sekolah dengan jalan kaki. Hari ini Za akan mengerjakan tugas bersama di rumahku. Hari ini aku tidak dijemput karena ayah tidak sempat menjemputku. Ya, seperti biasa dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kami sangat lelah. Matahari siang ini seperti ingin melahap kami. 

"Huuhhhh aku belum pernah berjalan di siang yang sepanas ini!" katanya sambil menyeka keringatnya.

"Maaf ya Za. Ayahku memang menyebalkan! Seandainya saja dia tidak selalu memikirkan pekerjaan bodohnya, kita tidak akan seperti ini!" kataku merengut.

"Tapi kan dia bekerja juga untuk mu, El" kata Za padaku.

"Aku tahu, tapi dia sampai menelantarkanku demi pekerjaannya!" kataku masih tersungut-sungut.

"Sudahlah, kurasa marah-marah tidak akan membantu kita" kata Za sambil menyeka keringatnya lagi.

Aku hanya bisa menghela napasku. Kurasa panas matahari di tambah kemarahanku membuatku sangat lelah. Aku berjalan semakin lambat. Za sudah berada cukup jauh dariku. Tentunya dia juga merasa sama lelahnya sepertiku tapi karena dia ingin cepat sampai dia berjalan dua kali lebih cepat dariku. Meskipun kami hampir sampai, aku merasa sudah sangat lelah sehingga aku memilih untuk berhenti dan duduk di dekat taman. Rasanya suaraku tidak bisa keluar untuk memanggil Za. Sehingga aku membiarkannya berjalan sendirian ke rumahku. 

"Kelihatannya kau sangat lelah. Minum ini!" terdengar suara seseorang yang menyodorkan sebotol air mineral kepadaku.

"Al? Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku heran sambil mengambil dan meminum air yang tadi di berikan olehnya.

"Aku cuma kebetulan lewat sini dan melihatmu" katanya.

Aku melihat pakaian yang di pakainya. Lalu bertanya, "Kemana kau akan pergi? Oh ya, thanks ya minumnya" 

"Ya meskipun aku sudah hebat aku masih harus tetap latihan basket kan? Hahaha" katanya sambil tertawa.

"Kau mau latihan basket disini?" tanyaku.

"Aku tidak mungkin latihan di tempat sepanas ini dan aku juga membutuhkan lawan. Ya kan?" katanya.

"Ya kau benar. Kau juga tidak mungkin menjadikan aku yang payah ini sebagai lawanmu bukan? Hahaha" aku tertawa.

"Ide bagus! Bagaimana kalau kau berlatih dengan ku setiap sore. Tentu saja agar kau menjadi payah lagi dan layak untuk menjadi lawanku!" kata Al serius.

"Ya ya terserah kau sajalah. Aku hampir lupa ada Za di rumahku. Dia pasti sudah tidak sabar menungguku. Bye!" kataku sambil berdiri dan berjalan kearah rumahku.

"Bye!" kata Al yang juga berjalan ke luar daerah perumahan.

Begitu sampai dirumah, aku sudah tidak heran mendengar Za marah-marah padaku. Jelas saja aku berhenti di jalan tanpa memberitahunya dan aku menghilang cukup lama. 

"El, kamu kemana aja sih? Aku tuh disini udah lumutan nungguin kamu! Semua koleksi majalahmu sudah habis kubaca. Masa istirahat saja sampai lama begitu!" omelan Za memekik di kupingku.

"Iya sorry deh. Tadi aku bertemu dengan Al dan mengobrol sebentar dengannya" kataku pada Za

"Al? Siapa dia? Temanmu disini?" tanya Za

"Ya, rumahnya juga berada di perumahan ini. Aku sering bertemu dengannya" aku menjelaskan.

"Oh begitu. Sudah ayo kita kerjakan tugas kita." kata Za sambil membuka tasnya untuk mengambil buku tugasnya.

****

Tugas kami sudah selesai. Saat ini sudah pukul 4 sore. Za sudah siap-siap untuk pulang ke rumah. Kami menuruni tangga. Sepertinya biasa rumahku terlihat sepi. Kami menuju luar. Kami terus membicarakan tugas kami saat Za sedang mengikat tali sepatunya. Tiba-tiba ada suara dari luar yang sepertinya memanggilku. Aku melongok-longokan kepalaku karena orang itu tidak terlihat. Tapi Za melihatnya dan dia terlihat kaget. Aku bingung. Siapa ya orang itu?

To be contionued!
Thanks for reading it!
Write you comment or on my twitter, please!
My twitter? @lilaandari
Thanks :D
http://www.iconspedia.com/uploads/12789365491822702177.png