Siapa Sahabatku? (Part I)
Karya : Lila Andari
Apa? Paras dan Guste
akhirnya jadian? Lalu, bagaimana dengan Mutia? Batinku dalam hati.
“Kapan kamu jadian, Ras? Gimana bisa?” tanyaku
pada Paras.
“Tadi malam dia nembak aku. Hehe” Jawab Paras
malu-malu.
Aku menengok ke arah teman-temanku yang lain.
Hanya ada Lesya dan Silmy disini. Pantas saja tadi Paras langsung menarik
tubuhku ketika dia melihat sosok aku di depan pintu kelas. Belum sempat aku
meletakkan tas, Paras dengan sigap menarik tanganku menuju lorong di dekat
ruang BK dan tiba-tiba mengatakan suatu hal yang membuatku bingung. Aku
terdiam.
“Lil? Kenapa? Iya, nanti aku akan coba kasih
tau Mutia” kata Paras seakan membaca pikiran yang sedari-tadi membuatku
terdiam.
“Ya jelaslah kamu harus kasih tau dia! Aku gak segan-segan bilang ke
dia sekarang kalau kamu berniat menyembunyikan semua ini! Cukup Ras! Dengan kamu
kasih tau sekarang aja akan membuat dia sakit banget. Apalagi kalau kamu masih
mau menyembunyikan semua ini” kataku yang entah kenapa merasa emosi. Paras
hanya menunduk sambil menghela nafas panjang.
“Kamu pasti bisa kok Ras. Aku yakin dan aku percaya sama kamu” kata
Silmy berusaha menenangkan Paras.
“Sekarang kita ke kelas aja yuk. Mudah-mudahan Mutia belum datang” kata
Lesya seraya berjalan menuju ke kelas.
Akhirnya kami berjalan menuju kelas. Saat ini, sudah pukul 6.20,
sepuluh menit lagi bel sudah berbunyi. Jelas saja kelas sudah terlihat ramai.
Di depan kelas, sudah terlihat Mutia yang sedang piket. Aku langsung berjalan
menuju ke sana. Tiba-tiba Paras menarik tanganku. Aku menoleh dan dia
membisikkan sesuatu di telingaku. Aku hanya mengangguk lemas dan berusaha
terlihat normal di depan Mutia.
“Pagi Mut, sudah datang dari tadi?” tanyaku sambil tersenyum.
“Iya, kalian kemana aja? Huh, aku sendiri nih daritadi. Kalian pergi nggak bilang-bilang sih!”
kata Mutia menggerutu.
“Kamu sih datangnya siang. Jadi nggak ikut kita jalan-jalan deh! Hahaha
” kata Lesya sambil meledek Mutia.
“Iya Mut! Kamu tumben datang lebih telat dari Lesya dan Silmy. Mereka
kan biasanya datangnya bareng sama bunyi bel! Hahaha” kataku sambil melirik
kearah Lesya dan Silmy.
Mutia terbahak-bahak mendengar ledekkanku. Sedangkan Lesya, Silmy dan
Paras terdiam. Ledekkan sekaligus sindiranku berhasil membuat mereka membisu.
Karena, aku tahu alasan mereka datang lebih pagi dari biasanya. Alasan yang
selalu disembunyikan. Atau lebih tepatnya, perasaan yang selalu disembunyikan
oleh Paras.
*****
“Mut, ke kantin yuk. Aku mau beli minum nih” kataku sambil menarik
tangan Mutia.
“Eh eh, sebelum kalian ke kantin, Paras mau ngomong sesuatu…” kata
Silmy ragu sambil melirik Paras.
“Yaudah. Paras, kamu mau ngomong apa?” tanya Mutia.
“Hmm… ngomongnya di kantin aja deh. Lil, kamu haus kan?” kata Paras
sambil melirikku. Aku mencoba mengerti apa maksud lirikkannya itu. Aku hanya
bisa mengangguk.
Kami berempat berjalan ke kantin. Aku berjalan lebih dulu bersama Mutia.
Aku merangkulnya dan menepuk pundaknya sambil menengok ke belakang. Paras hanya
menunduk, sementara Lesya dan Silmy terdiam.
Kami berjalan ke kantin dalam keadaan bisu. Kami sedang berurusan dengan
jalan pikiran masing-masing. Kurasa pikiranku, Paras, Silmy dan Lesya tidak
akan jauh berbeda. Tentu saja karena hanya Mutia yang tidak tahu soal ini, tapi
dia akan mengetahuinya.
“Mut…” kata Paras ragu, lalu ia terdiam.
“Ya? Kenapa Ras?” tanya Mutia santai sambil melepas dahaganya dengan
meminum es yang sedang digenggamnya.
“Aku…mau kasih tau kamu sesuatu. Tapi..kamu jangan marah ya sama aku.
Maaf aku baru bisa bilang sekarang…” jawab Paras sambil menatap Mutia lalu
menunduk.
Mutia menatap Paras, kali ini air mukanya berubah serius. “Maksud kamu
apa? Kok jadi serius gini?” kata Mutia sambil menatap kami satu persatu. Kami
semua hanya bisa terdiam.
“Mut, tadi malam….” kata Silmy ragu.
“Apa? Apa yang terjadi tadi malam? Apa yang tidak aku tahu?” tanya
Mutia bingung. Lagi-lagi kami terdiam.
“Jadi begini mut…. Tadi malam mantan kamu nembak aku…” kata Paras
sambil menatap Mutia.
“Mantan aku? Siapa….? Maksud kamu…….Guste?” tanya Mutia lagi dengan
bingung. Ia terlihat terkejut.
“Hmm…. Aku gak bisa bohong lagi sama kamu. Udah cukup perasaan ini aku
pendam terus-menerus. Aku juga bisa jatuh cinta, Mut. Aku nggak tau darimana
perasaan ini datang. Sebenernya, aku suka sama Guste, Mut. “ jelas Paras
panjang lebar.
“Terus……..tadi malam dia nembak kamu? Kamu……terima dia?” kata Mutia.
Dia sangat terkejut mendengar pernyataan Paras.
“Iya Mut. Aku…..terima dia. Kurasa, perasan kami sama. Maaf Mut, aku
baru bilang sekarang. Aku takut….kamu marah” jawab Paras.
“Oh” jawab mutia sambil berdiri lalu pergi meninggalkan kami. Kami
hanya terdiam, Paras terlihat pucat. Sepertinya dia tidak menyangka reaksi
Mutia akan separah itu. Aku berdiri menuju kelas. Berniat untuk menghampiri
Mutia.
“Lil? Mau kemana?” tanya Lesya.
“Ke Mutia” Kataku singkat sambil menoleh.
“Ikuuuutt!” kata Silmy dan Lesya sambil berdiri mengahampiriku. Paras
hanya terdiam. Dia melamun, mukanya masih pucat.
“Ras, kamu nggak ke kelas? Sebentar lagi bel lho!” tanya Lesya pada
Paras.
“Iya, nanti aku nyusul. Kalian bertiga duluan aja” Kata Paras berusaha
tersenyum. Senyum yang sangat terlihat di paksakan. Aku langsung pergi
meninggalkan Paras. Entah mengapa, kali ini aku merasa dia yang bersalah.
Sampai di kelas, aku langsung menuju tempat dudukku. Mutia, teman
sebangkuku duduk termenung sambil membalik-balikan halaman buku matematika di
depannya.
“Mut, kamu nggak apa-apa kan?” tanyaku pada Mutia.
“Iya, aku baik-baik aja kok” kata Mutia berusaha tersenyum. Senyuman
itu mengingatkanku akan senyuman Paras. Senyuman mereka sama, senyuman yang
dipaksakan.
“Mut? Jadi kamu maunya gimana? Jangan diem terus gini. Aku tahu kamu
sedih, aku juga nggak melarang kamu untuk nangis. Tapi kita mau selesain
masalah ini sekarang. Kamu mau persahabatan kita berhenti hanya karena hal
ini?” kata Silmy tegas.
Sudah berkali-kali kata-kata itu dilontarkan oleh Silmy. Hanya
terdengar isakkan hebat dari Mutia. Kami semua bingung harus bagaimana. Apalagi
Paras, dia hanya duduk di belakang bersama Lesya. Terlihat air muka bersalah di
wajahnya. Tiba-tiba, Paras berdiri dari kursinya dan menghampiri kami.
“Mut, aku nggak mau persahabatan kita berakhir hanya karena Guste.
Mungkin aku memang menyayanginya, tapi aku lebih menyayangi persahabatan kita.
Itu lebih dari segalanya buat aku Mut. Aku rela ninggalin Guste demi
persahabatan kita kalau itu yang kamu mau. Aku rela” Kata Paras tegas. Matanya
yang kini sudah dibasahi air mata membuatnya terlihat pilu. Sedangkan Mutia masih
membisu.
“Aku……nggak tahu harus gimana. Aku……” kata Mutia berusaha berbicara. Lagi-lagi
kembali terdengar isakkan darinya.
“Apa kamu lupa dulu kita gimana? Apa kamu mau mengakhirinya begitu
saja? Apa arti kita berenam buat kamu?” kata Timeh.
Aku dan Lesya hanya bisa terdiam. Aku tidak menyangka akan jadi seperti
ini. Kami akan berakhir? Akankah secepat ini? Rasanya baru kemarin kami
bersatu.
Ya, kami bersatu…………
“Ehhh, kapan nih kita mulai latihan dancenya?” kata Lesya ceria.
“Oh iya, seleksi sebentar lagi ya? Pokonya kita harus tampil di acara pensi
itu!” kataku tak kalah ceria dari Lesya.
“Bukannya kemarin seleksinya sudah dilaksanakan ya? Aku melihat
beberapa peserta yang berminat untuk tampil. Ternyata tidak hanya kita yang
akan menari di atas panggung nanti. Ada kakak kelas VIII yang sepertinya juga
terpilih! Kalau tidak salah nama grup mereka……..GOD!” kata Silmy menjelaskan.
“Wah, aku jadi penasaran ingin melihat mereka. Menurut kamu mereka
gimana Sil?” tanya Mutia.
“Udah udah, kita nggak usah mikirin mereka dulu. Sekarang kita cari
nama grup kita dulu! Yang bagus apa ya……?” kata Lesya yang sedang menopang
kepalanya dengan kedua tangannya di meja.
“Gimana kalau…………Gold!” celetuk Paras.
“Apa? Gold? Apa artinya?” tanya Timeh.
“Generation Of Ladies Dancer!
Gimana? Keren kan? Paras gituuuuu!” kata
Paras sambil berdiri lalu menggandeng tanganku yang berada di sebelah
kanannya.
Aku, Lesya, Timeh, Silmy dan Mutia terdiam lalu tersenyum bersama-sama.
Aku langsung menggandeng tangan Lesya yang ada di sebelahku begitu juga dengan
yang lainnya. Tanpa aba-aba kami semua berteriak dengan serempak,
“We
are GOLD! Generation Of Ladies Danceeeeeeer!”
Ya, aku, Timeh, Paras, Lesya, Mutia, Silmy tergabung dalam sebuah grup
dance. Akan tetapi, kami bukan hanya grup dance biasa. Persahabatan yang telah
kami jalin selama kurang lebih satu setengah tahun, membuat kami merasa lebih
dari sebuah emas biasa.
*****
Hai, aku Lila. Seorang gadis yang sedang belajar untuk jadi dewasa. Ya,
umurku 14 tahun saat ini. Aku sedang duduk dibangku kelas IX. Mungkin aku bukan
gadis yang pintar. Tapi aku bersyukur dengan hidupku saat ini. Bersama kedua
orang tuaku, saudara-saudaraku, dan tentunya sahabat-sahabatku yang membuatku
merasa beruntung.
Aku juga merasa sangat bersyukur
pernah menjadi bagian dari GOLD, tapi bukan berarti aku sudah bukan bagian dari
GOLD. Aku tak mengerti sekarang apa artinya diriku bagi mereka. Persahabatan
kami tidak seindah dulu lagi. Aku tidak tahu apa penyebab semua ini terjadi.
Saat ini, aku mencoba menjalani hari-hariku bersama Tisa dan Mutia. Kedua
sahabat yang selalu ada untukku.
“Lilaaaaaa! Beda kelas sama kamu nggak enak ya! Kita jadi jarang
bercanda dan nyanyi bareng deh!” kata Lesya yang menyambutku saat aku
menghampirinya di kelas.
Ya, saat ini aku sudah tidak lagi sekelas dengan Lesya, Timeh dan Paras.
Di kelas IX, aku sekelas dengan Mutia dan Silmy. Mengapa aku tidak lagi dekat
dengan Silmy? Aku tidak tahu pasti. Tiba-tiba ada jarak diantara kami, dan aku
berusaha tidak memikirkan itu.
“Iya, aku kangen bercanda sama kamu! Huh, seandainya kita sekelas lagi
ya Les!” kataku pada Lesya sambil kembali menyuap nasi goreng yang ada di
tanganku.
“Kamu masih mending! Aku sekelas sama Lila cuma kelas 7 aja!” kata
Timeh nimbrung.
“Tapi masih enakan jadi kamu Meh! Kalau sekelas sama Lila nih ya, kamu
harus pakai penyumbat telinga tiap hari! Gimana gak pusing, suaranya aja udah
lebih dari 8 oktaf!” kata Paras meledekku.
“Hahaha, kalau begitu masih enakkan kalian bertiga! Lah aku? Tiga tahun
sekelas sama dia! Sebangku terus lagi! Gimana aku nggak budek!” ledek Mutia
yang berhasil membuatku cemberut.
“Lil? Jangan cemberut gitu dong! Nanti tambah mekar itu hidung!” kata
Paras disusul dengan tawa dari Lesya, Timeh dan Mutia.
“Ih! Awas ya kalian semuaaa!!” pekikku kencang sehingga membuat mereka
menutup telinga masing-masing.
*****
Halow. Hehe. Gue cuma mau nge-post cerpen ini. Ini kisah nyata loh. Sebenarnya gak ada niatan buat bikin cerpen, tapi karena ini tugas jadi ya harus deh dan niat iseng gue pun muncul buat masukin cerpen ini ke blogku tercintah hehehehe~ Oh iya ini baru part 1 nya lohh. Lanjutannya setelah post ini ya. Wait a second! Nanti juga muncuuul. Semoga kalian sukaa! ;3











0 comments:
Post a Comment