Part 4
Tugas kami sudah selesai. Saat ini sudah pukul 4 sore. Za sudah siap-siap untuk pulang ke rumah. Kami menuruni tangga. Seperti biasa rumahku terlihat sepi. Kami menuju luar.Kami terus membicarakan tugas kami saat Za sedang mengikat tali sepatunya. Tiba-tiba ada suara dari luar yang sepertinya memanggilku. Aku melongok-longokkan kepalaku karena orang itu tidak terlihat. Tapi Za melihatnya dan dia terlihat kaget. Siapa yang orang itu?
Aku berusaha untuk tidak memerdulikan reaksi Za dan berjalan menuju keluar. Ternyata orang itu adalah Al! Beribu pertanyaan menghampiri benakku. Kenapa Za terlihat begitu kaget? Dia tidak mengenal Al bukan? Apa maksud dari reaksi Za itu? Aku terlamun.
"El! El! Ada apa dengan mu?" tanya Al
Eh, eh tidak apa-apa." kataku kaget.
"Kau sedang apa? Ayo kita latihan!" tanya Al dengan ceria.
"Aku baru saja menyelesaikan tugasku. Hah? Latihan apa?" jawabku dengan bingung.
"Tentu saja berlatih basket. Kau sudah merasa hebat ya? Hahaha" kata Al sambil meledekku.
"Hemm..Okey! Wait a minute Al" kataku membalikkan badan dan tersontak melihat wajah pucat Za.
"Za...? Kamu kenapa?" aku bingung.
"Al....ex? Apa... ya..yang kau la..kukan di...disini?" kata Za terbata-bata.
"Kalian sudah saling kenal? Aku tidak tahu kalau Za mengenalmu Al." kataku sambil melihat keaarah Al
Al sempat terlihat kaget melihat Za, lalu dia berkata, "Ya, kami...kami sudah lama saling kenal"
"Wow! Itu hebat, dua sahabatku bahkan sudah saling kenal. Dunia memang sempit ya" kataku sambil melihat mereka berdua.
Za menunduk. Terdengar isakan dari dirinya. "Za, Za? Kau menangis? Ada apa?"
"Menangis? Tidak. El, maaf sepertinya aku harus pulang. Sekarang sudah semakin sore, orang tua ku pasti khawatir." katanya sambil berjalan pergi. Aku tahu ia menangis, ya aku tahu. Tapi aku tak tahu mengapa ia menangis.
"El, kurasa latihan kita sore ini harus di tunda. Aku lupa ada tugas yang belum kukerjakan. Bye!" kata Al menghamburkan lamunanku. Dia langsung berlari menjauh, Ada apa dengan kedua orang itu? Tadi mereka baik-baik saja. Apa yang salah?
"Za...? Kamu kenapa?" aku bingung.
"Al....ex? Apa... ya..yang kau la..kukan di...disini?" kata Za terbata-bata.
"Kalian sudah saling kenal? Aku tidak tahu kalau Za mengenalmu Al." kataku sambil melihat keaarah Al
Al sempat terlihat kaget melihat Za, lalu dia berkata, "Ya, kami...kami sudah lama saling kenal"
"Wow! Itu hebat, dua sahabatku bahkan sudah saling kenal. Dunia memang sempit ya" kataku sambil melihat mereka berdua.
Za menunduk. Terdengar isakan dari dirinya. "Za, Za? Kau menangis? Ada apa?"
"Menangis? Tidak. El, maaf sepertinya aku harus pulang. Sekarang sudah semakin sore, orang tua ku pasti khawatir." katanya sambil berjalan pergi. Aku tahu ia menangis, ya aku tahu. Tapi aku tak tahu mengapa ia menangis.
"El, kurasa latihan kita sore ini harus di tunda. Aku lupa ada tugas yang belum kukerjakan. Bye!" kata Al menghamburkan lamunanku. Dia langsung berlari menjauh, Ada apa dengan kedua orang itu? Tadi mereka baik-baik saja. Apa yang salah?
****
"Zaaaaa, ke kantin saja yuk! Kau terlihat lemas hari ini. Aku belikan kau makan deh!" kataku sambil membujuk Za.
"Tidak aku mau disini saja El. Thanks" kata Za lagi-lagi menolak.
"Kamu kenapa sih? Hari ini kau sangat diam. Ada apa?" tanyaku khawatir. Za tidak biasanya begini. Ia pasti meloncat kegirangan bila ku traktir makan. Badannya tidak panas, bahkan ia tidak terlihat pucat. Tapi ada sesuatu yang aneh dimatanya. Entah mengapa tatapannya terlihat kosong hari ini.
"Aku mau disini" katanya singkat.
"Tidak! Pokoknya kamu harus ikut aku sekarang!" kataku sambil berusaha menarik tangannya. Awalnya, tangan Za sempat menolak ajakanku, tapi akhirnya ia mengalah.
Aku berjalan melewati lorong kelas. Aku tidak menariknya menuju kantin. Aku menariknya ke ruang musik. Ya, ruang musik dimana piano berada. Ya kurasa aku butuh piano sekarang. Kamui akhirnya sampai. Aku langsung menariknya kesudut ruangan, tentunya kearah piano. Aku duduk di kursi piano bersama Za, membuka tutup piano tersebut. Aku mulai memainkan tuts-tuts piano itu.
"Apa yang kita lalukan disini?" tanya Za.
"Just watch and listen" kataku padanya.
Setelah intro selesai, aku pun mulai bernyanyi
Oh, why you look so sad?
Tears are in your eyes
Come on and come to me now
Don't be ashamed to cry
Let me see you trough
'cause I've seen the dark side too
When the night falls on you
You don't know what to do
Nothing you confess
Could make me love you less
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let no body heart you
I'll stand by you
So if you're mad, get mad
Don't hold it all inside
Come on and talk to me now
Hey, why you got to hide?
I get angry too
Well, I'm a lot like you
When you're standing at the crossroads
And don't know which path to choose
Let me come along
'cause even if you're wrong
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you
Take me in, into you darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you
And when...
When the night falls on you, baby
You're feeling all alone
You won't be on your own
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you
Take me in, into you darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let no body hurt you
I'll stand by you
Won't let no body hurt you
I'll stand by you
Terdengar isakan yang cukup menyesakkan dadaku. Za menangis. Aku bingung harus melakukan apa, akhirnya aku memeluknya dan tangisannya mulai mereda.
"El.....I'm sorry. I still....can't tell..tell you about it" kata Za masih terisak.
"It's okay Za. Aku akan mencoba mengerti" kataku sambil tersenyum pada Za
"Thanks El. Thank you so much. I love your song and your vioce too." kata Za balik tersenyum.
"My pleasure Za. Ayo kembali ke kelas" kataku sambil berdiri menarik tangan Za.
"Aku ingin bolos El. Sekali ini saja. Kamu mau nemenin aku disini?" kata Za tersenyum jahil.
"Tentu saja" kata ku kembali duduk di kursi piano dan memainkan tuts piano seperti tadi. Lagu I'll Stand by you yang dinyayikan oleh The Pretenders pun mengalun di ruang musik siang itu.
"Aku mau disini" katanya singkat.
"Tidak! Pokoknya kamu harus ikut aku sekarang!" kataku sambil berusaha menarik tangannya. Awalnya, tangan Za sempat menolak ajakanku, tapi akhirnya ia mengalah.
Aku berjalan melewati lorong kelas. Aku tidak menariknya menuju kantin. Aku menariknya ke ruang musik. Ya, ruang musik dimana piano berada. Ya kurasa aku butuh piano sekarang. Kamui akhirnya sampai. Aku langsung menariknya kesudut ruangan, tentunya kearah piano. Aku duduk di kursi piano bersama Za, membuka tutup piano tersebut. Aku mulai memainkan tuts-tuts piano itu.
"Apa yang kita lalukan disini?" tanya Za.
"Just watch and listen" kataku padanya.
Setelah intro selesai, aku pun mulai bernyanyi
Oh, why you look so sad?
Tears are in your eyes
Come on and come to me now
Don't be ashamed to cry
Let me see you trough
'cause I've seen the dark side too
When the night falls on you
You don't know what to do
Nothing you confess
Could make me love you less
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let no body heart you
I'll stand by you
So if you're mad, get mad
Don't hold it all inside
Come on and talk to me now
Hey, why you got to hide?
I get angry too
Well, I'm a lot like you
When you're standing at the crossroads
And don't know which path to choose
Let me come along
'cause even if you're wrong
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you
Take me in, into you darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you
And when...
When the night falls on you, baby
You're feeling all alone
You won't be on your own
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you
Take me in, into you darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you
I'll stand by you
Won't let no body hurt you
I'll stand by you
Won't let no body hurt you
I'll stand by you
Terdengar isakan yang cukup menyesakkan dadaku. Za menangis. Aku bingung harus melakukan apa, akhirnya aku memeluknya dan tangisannya mulai mereda.
"El.....I'm sorry. I still....can't tell..tell you about it" kata Za masih terisak.
"It's okay Za. Aku akan mencoba mengerti" kataku sambil tersenyum pada Za
"Thanks El. Thank you so much. I love your song and your vioce too." kata Za balik tersenyum.
"My pleasure Za. Ayo kembali ke kelas" kataku sambil berdiri menarik tangan Za.
"Aku ingin bolos El. Sekali ini saja. Kamu mau nemenin aku disini?" kata Za tersenyum jahil.
"Tentu saja" kata ku kembali duduk di kursi piano dan memainkan tuts piano seperti tadi. Lagu I'll Stand by you yang dinyayikan oleh The Pretenders pun mengalun di ruang musik siang itu.
****
Huuuhhh! Lagi-lagi Al berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Aku sudah lelah, aku hanya bisa memperhatikan Al yang sedang mencoba three point dan bola masuk dengan tepat, aku bertepuk tangan dengan lemas dan duduk ditengah lapangan.
"Capeekk. Ayolah Al kita istirahat dulu. C'mon!" kataku pada Al.
"Dasar payah!" kata Al sambil duduk di sebelahku.
"Eh iya Al. Hari ini Za sudah kembali ceria. Aku senang melihat dirinya yang dulu kembali" kataku sambil tersenyum menatap langit senja.
"Oh, baguslah" kata Al dengan singkat sambil berdiri dan mulai mendrible bola. "Ayo kita mulai latihan lagi!" kata Al tersenyum.
"Baiklah" kataku sambil menghela nafas. Aku langsung mengerjar Al. Berusaha mengambil bola darinya namun tiba-tiba kakiku di injak oleh Al dan aku kehilangan keseimbangan. Aku tak tahu apa yang terjadinya. Tubuhku terjatuh, tapi aku tidak merasa sakit sama sekali. Aku baru menyadari apa yang terjadi setelah aku membuka mataku. Terlihat wajah Al yang membuat ku malu sekaligus merasa nyaman. Aku tidak tahu kenapa tapi aku....aku...kurasa aku menyukainya. Ya, aku menyukai Al.
"El? Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" kata-kata dari Al membuyarkan lamunanku. Dan kata-kata itu pun menyadarkanku kalau sekarang tubuh ku di topang oleh Al. Mukaku berubah drastis setelah menyadari hal itu. Aku pun langsung berdiri.
"Y..a..ya aku..aku ba..ik baik saja...Al. Mak...makasih" kataku gugup.
"Anytime for you El" kata Al kemudian. Entah mengapa, setelah aku mendengar kata-kata dari Al, mukaku terasa panas. Aku merasa...merasa malu. Aku tak tahu kenapa.
****
Di tengah kebahagian El dengan Al. Ia tidak menyadari akan ada bencana yang melanda dirinya karena Al. Ada sepasang mata yang panas memerhatikan mereka. Sepasang mata yang kini membenci El. Sepasang mata yang tidak akan pernah melihat mereka berdua lagi.
****
Aku berjalan menuju lorong sekolah dengan santai. Terkadang aku melemparkan senyumanku kepada beberapa orang yang kukenal. Aku menuju lokerku dan mengambil buku sejarah, pelajaran pertama hari ini. Ketika menutup lokerku, seperti ada mesin waktu yang berputar di otakku.
-Flashback
Seorang cowok tinggi, bermata coklat, dan berambut hitam kecoklatan. Dia menggunakan pakaian yang santai tapi sopan. Aku memperhatikannya beberapa saat sampai dia menutup lokernya dan menyadari aku sedang memandanginya. Aku kaget dan langsung menutup lokerku lalu mengajak Za kembali ke kelas. Aku dan Za berjalan melewati lorong menuju ruang lab. Tiba-tiba lelaki yang sedari tadi ku perhatikan berjalan menyenggolku dan buku biologiku terjatuh. Dia kaget dan seperti sedang terburu-buru.
"Oh sorry! Aku tidak sengaja. Aku buru-buru." katanya sambil membantuku mengambil buku
-Back
"El! El! Kau tahu Rissa kan? Dia kecelakaan!" tiba-tiba Za menepuk pundakku dan membuyarkan lamunanku. Seketika ingatan tadi hilang dengan sekejap. Aku bingung, sepertinya aku pernah mengalami itu, tapi aku tidak ingat kapan, dimana, dan siapa laki-laki itu.
-Flashback
Seorang cowok tinggi, bermata coklat, dan berambut hitam kecoklatan. Dia menggunakan pakaian yang santai tapi sopan. Aku memperhatikannya beberapa saat sampai dia menutup lokernya dan menyadari aku sedang memandanginya. Aku kaget dan langsung menutup lokerku lalu mengajak Za kembali ke kelas. Aku dan Za berjalan melewati lorong menuju ruang lab. Tiba-tiba lelaki yang sedari tadi ku perhatikan berjalan menyenggolku dan buku biologiku terjatuh. Dia kaget dan seperti sedang terburu-buru.
"Oh sorry! Aku tidak sengaja. Aku buru-buru." katanya sambil membantuku mengambil buku
-Back
"El! El! Kau tahu Rissa kan? Dia kecelakaan!" tiba-tiba Za menepuk pundakku dan membuyarkan lamunanku. Seketika ingatan tadi hilang dengan sekejap. Aku bingung, sepertinya aku pernah mengalami itu, tapi aku tidak ingat kapan, dimana, dan siapa laki-laki itu.
"El! Kau dengar aku tidak?" kata Za lagi.
"Apa? Aku tidak dengar" kataku padanya.
"Rissa El! Rissa kecelakaan!" Za terlihat panik.
"Rissa teman sekelas kita? Kapan?"
"Iya! Rissa siapa lagi? Kemarin sore, dia kecelakaan di dekat komplek perumahanmu!" kata Za.
"Sekarang....sekarang di mana dia?" tanyaku.
"Dia masih dirumah sakit. Aku belum tahu perkembangannya. Tapi kemarin malam dia belum sadar" kata Za sambil menghela nafas. "Saraf matanya terluka.....aku tidak tahu, saat sadar nanti dia bisa melihat kita lagi atau tidak" kata Za lemas. Aku kaget, dadaku menyesak. Selama ini, aku tidak pernah mendapati temanku kecelakaan sampai separah itu.
"Ayo kita kesana Za! Aku ingin melihat keadaannya!" kataku sambil menarik tangan Za menuju rumah sakit.
"Apa? Aku tidak dengar" kataku padanya.
"Rissa El! Rissa kecelakaan!" Za terlihat panik.
"Rissa teman sekelas kita? Kapan?"
"Iya! Rissa siapa lagi? Kemarin sore, dia kecelakaan di dekat komplek perumahanmu!" kata Za.
"Sekarang....sekarang di mana dia?" tanyaku.
"Dia masih dirumah sakit. Aku belum tahu perkembangannya. Tapi kemarin malam dia belum sadar" kata Za sambil menghela nafas. "Saraf matanya terluka.....aku tidak tahu, saat sadar nanti dia bisa melihat kita lagi atau tidak" kata Za lemas. Aku kaget, dadaku menyesak. Selama ini, aku tidak pernah mendapati temanku kecelakaan sampai separah itu.
"Ayo kita kesana Za! Aku ingin melihat keadaannya!" kataku sambil menarik tangan Za menuju rumah sakit.
****
"Apa yang kau lakukan disini? Pergi! Pergiii!" Rissa mencoba memukulku yang tidak terlihat olehnya.
"Rissa, kau kenapa? Aku hanya ingin...ingin melihat keadaanmu" kataku sedikit takut.
"Kau....kau dan Alex yang membuatku seperti ini. Aku membencimu! Pergi sana! Pergii!" kata Rissa.
Aku kaget, apa maksudnya? Aku masih tidak mengerti. Aku menoleh ke arah Za dan menunduk melihat reaksi Za karena ucapan Rissa. Dia sangat pucat. Dengan cepat, Za langsung menarik tanganku menuju pintu dan mendorongku keluar. Aku hanya menurutinya. Aku bingung. Aku hanya bisa menangis di luar, sebuah pertanyaan besar menghantui kepalaku. Apa maksud perkataan Rissa tadi?
****
To be Continoued!
Thanks for reading it!
Write your comment here or on my twitter, please.
My twitter? @lilaandari
Thanks :D














