"Spathodea Campanulata" [Part 3]

 Part 3

Saat ini sudah pukul 5 sore. Aku melihat langit jingga yang indah di luar sana. Sampai mataku tertuju pada sesosok lelaki yang berdiri di depan rumahku. Dia sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia menggunakan kaus oblong dan celana pendek serta sepatu olahraga.Di tanggan kanannya terdapat sebuah bola baslet sedangkan di tangan kirinya terdapat botol mineral yang sudah dihabisi setengahnnya. Namun, aku baru menyadari kalau sepertinya dia orang yang pernah kulihat. Kepalanya melongok-longok seperti mencari sesuatu. Siapa dia?

Aku berjalan keluar menghampirinya. Dia belum melihatku dan masih melongokkan kepalanya ke arah rumahku. Dia tidak menyadari aku menghampirinya. Ternyata dia bertubuh tinggi dan kurus. Rambutnya hitam kecoklatan dan warna matanya coklat.....Ya! Aku pernah melihatnya. Loker nomor 14! Ya! Dia adalah lelaki yang membuatku pingsan. Aku memberanikan diri untuk berbicara dengannya.

"Apa yang kau lakukan disini? Sedang mencari sesuatu?" tanyaku padanya.


"Hey! Sejak kapan kau berada disini?" katanya kaget

"Kenapa kau tidak melihatku sama sekali? Kurasa aku berada disini sejak 5 menit yang lalu" kataku santai


"Oh ya? Aku terlalu sibuk mencari sepertinya" katanya lagi


"Apa atau siapa yang kau cari?" aku penasaran


"Aku kesini untuk mencarimu!" katanya sambil menggenggam tanganku.


Aku menyerngitkan dahiku. Seketika aku tidak sadar dia sedang menggenggam tanganku. Aku langsung menarik tanganku. Kurasa mukaku menjadi merah padam. Aku menunduk dan berusaha memberanikan diri lagi.


"Aku? Untuk apa kau...mencariku? Aku bahkan tidak umm... mengenalmu" kataku bingung.


"Aku ingin bermain ini bersamamu? Ayo!" katanya sambil menyodorkan bola basket kepadaku.


"Tidak mau. Aku lelah. Aku ingin istirahat!" kataku sambil membalikkan badanku dan berjalan kembali kerumah


"Oh, sepertinya bukan karena kau lelah. Aku tau kau payah bermain basket!" ledeknya.


"Siapa bilang? Oke! Akan ku tunjukan padamu. Ayo menuju ke sana!" kataku sambil berbalik badan lalu menunjuk taman di komplek perumahanku


"Kau berani melawanku? Oke. Tapi bagaimana kalau kita berkompetisi dari sekarang?" tanyanya dengan muka menantang.


"Apa maksudmu?" tanyaku


"Kita berlomba lari sampai taman! Bagaimana?" katanya dengan semangat


"Oke. Satu dua tiggg..." belum selesai kuhitung aku langsung berlari. 


Dia bingung dan berusaha mengejarku. Kami berlomba menuju taman yang tidak terlalu jauh. Tentu saja aku sampai duluan di taman.


"Hey! Kau curang. Kau berlari lebih dulu. Kau mencuri start!" katanya sambil tersengal-sengal.


"Hahaha, yang penting sekarang aku lebih unggul darimu!" kataku sambil tertawa


"Kau baru unggul satu poin! Jangan sombong dulu. Ayo kita mulai tanding lagi!" katanya semangat


"Tunggu, kita sudah lomba lari dan sekarang kita ingin main basket, kan?" tanyaku yang langsung  di jawab dengan anggukan darinya


"Tapi, bagaimana mungkin aku tidak tahu namamu?" kataku lagi


"Oh ya, aku lupa. Maaf. Aku Alex dan aku tahu nama mu. Kau Laurel kan?" katanya


"Alex? Oh oke salam kenal Al..ex" aku terbata saat menyebutkan namanya


"Salam kenal Laurel!" katanya sambil menjulurkan tangannya tanda mengajak bersalaman.


"Bagaimana kau tahu namaku, Al..ex?" lagi-lagi ku terbata.


"Kurasa kau adalah tetangga baruku. Kau anak Mr.Plummer kan? Ayahku yang mencarikan rumah baru untuk kalian." jelas Alex


"Jadi ayahku mengenal ayahmu? Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu?" kataku bingung


"Kurasa sekarang kau mengenalku" katanya sambil tersenyum


"Al..ex? Bolehkah aku memanggilmu....um..Al?" tanyaku ragu.


"Al? Umm.. Boleh juga!" katanya

"Okay Al! When will we start our game?" kataku sambil melirik Al.

"Right now!!!" kata Al sambil mulai mendrible bola. 

****

Kami bermain basket sampai sore. Tak terasa matahari telah meninggalkan kami. Aku kalah telak dari Al. Ternyata dia adalah pemain yang hebat.Meskipun aku merasa sangat lelah, aku tidak akan melupakan sore ini. Ya, aku menyukai hari ini tepatnya sore ini. Hari dimana aku bertemu Al, berkenalan dengan Al sampai aku bermain dengan Al. Kurasa hari ini pikiranku dipenuhi oleh Al. Aku bahkan merindukan Al sekarang! Aku tidak tahu pikiran apa ini, atau boleh dikatakan 'rasa' apa ini?  Oh god, what happened with me?

****
Aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Setelah meminum segelas susu, aku langsung berangkat. Ketika aku sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Saat itu pun rasanya ada yang bergejolak dihatiku.Siapa lagi kalau bukan Al, ya Al menepuk pundakku! Rasanya aku ingin bersorak tapi aku menahan reaksi aneh itu.

"Hey, Morning El!" katanya tersenyum padaku.

"Morning Al!" kataku membalas dengan senyuman termanisku.

"Kurasa kemarin kau kalah telak. Jadi mulai saat ini kau harus......" kata Al.

"Maksudmu? Harus apa?" kataku memotong pembicaraan Al.

"Harus belajar basket dengan si jagoan ini!" katanya sambil membusungkan dada.

" Huh.. dasar norak!' kataku sambil berjalan meninggalkannya.

"Hahaha, Sorry sorry El! Cuma bercanda kok" katanya sambil mengejarku.
 
"Terserah deh! Aku duluan ya, buru-buru nih. Bye!" kataku sambil berjalan meninggalkannya.

Sampai di kelas, sudah terlihat Za yang sedang mengobrol salah satu teman sekelasku yang belum kukenal. Aku pun menghampirinya.

"Morning Za!" kataku sambil menepuk pundaknya.

"Hey El! Morning, bagaimana keadaanmu?" katanya.

"Aku sudah baikkan kok" aku tersenyum padanya.

"Syukurlah. Oh ya, kau belum kenal dia bukan?" tanyanya padaku.

"Tentu saja belum. Hari pertamaku kuhabiskan di ruang kesehatan sepertinya" jawabku dan mereka semua tertawa

"Benar juga ya, Namamu Laurel kan? Aku Marissa, panggil saja Rissa." kata seorang perempuan yang sedang duduk di depan Za.

"Oh ya, salam kenal Rissa. Kau bisa memanggilku El kalau kau mau" kataku seraya tersenyum.

"Salam kenal juga El" Rissa tersenyum padaku.

****

Siang ini terasa sangat panas. Aku dan Za pulang sekolah dengan jalan kaki. Hari ini Za akan mengerjakan tugas bersama di rumahku. Hari ini aku tidak dijemput karena ayah tidak sempat menjemputku. Ya, seperti biasa dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kami sangat lelah. Matahari siang ini seperti ingin melahap kami. 

"Huuhhhh aku belum pernah berjalan di siang yang sepanas ini!" katanya sambil menyeka keringatnya.

"Maaf ya Za. Ayahku memang menyebalkan! Seandainya saja dia tidak selalu memikirkan pekerjaan bodohnya, kita tidak akan seperti ini!" kataku merengut.

"Tapi kan dia bekerja juga untuk mu, El" kata Za padaku.

"Aku tahu, tapi dia sampai menelantarkanku demi pekerjaannya!" kataku masih tersungut-sungut.

"Sudahlah, kurasa marah-marah tidak akan membantu kita" kata Za sambil menyeka keringatnya lagi.

Aku hanya bisa menghela napasku. Kurasa panas matahari di tambah kemarahanku membuatku sangat lelah. Aku berjalan semakin lambat. Za sudah berada cukup jauh dariku. Tentunya dia juga merasa sama lelahnya sepertiku tapi karena dia ingin cepat sampai dia berjalan dua kali lebih cepat dariku. Meskipun kami hampir sampai, aku merasa sudah sangat lelah sehingga aku memilih untuk berhenti dan duduk di dekat taman. Rasanya suaraku tidak bisa keluar untuk memanggil Za. Sehingga aku membiarkannya berjalan sendirian ke rumahku. 

"Kelihatannya kau sangat lelah. Minum ini!" terdengar suara seseorang yang menyodorkan sebotol air mineral kepadaku.

"Al? Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku heran sambil mengambil dan meminum air yang tadi di berikan olehnya.

"Aku cuma kebetulan lewat sini dan melihatmu" katanya.

Aku melihat pakaian yang di pakainya. Lalu bertanya, "Kemana kau akan pergi? Oh ya, thanks ya minumnya" 

"Ya meskipun aku sudah hebat aku masih harus tetap latihan basket kan? Hahaha" katanya sambil tertawa.

"Kau mau latihan basket disini?" tanyaku.

"Aku tidak mungkin latihan di tempat sepanas ini dan aku juga membutuhkan lawan. Ya kan?" katanya.

"Ya kau benar. Kau juga tidak mungkin menjadikan aku yang payah ini sebagai lawanmu bukan? Hahaha" aku tertawa.

"Ide bagus! Bagaimana kalau kau berlatih dengan ku setiap sore. Tentu saja agar kau menjadi payah lagi dan layak untuk menjadi lawanku!" kata Al serius.

"Ya ya terserah kau sajalah. Aku hampir lupa ada Za di rumahku. Dia pasti sudah tidak sabar menungguku. Bye!" kataku sambil berdiri dan berjalan kearah rumahku.

"Bye!" kata Al yang juga berjalan ke luar daerah perumahan.

Begitu sampai dirumah, aku sudah tidak heran mendengar Za marah-marah padaku. Jelas saja aku berhenti di jalan tanpa memberitahunya dan aku menghilang cukup lama. 

"El, kamu kemana aja sih? Aku tuh disini udah lumutan nungguin kamu! Semua koleksi majalahmu sudah habis kubaca. Masa istirahat saja sampai lama begitu!" omelan Za memekik di kupingku.

"Iya sorry deh. Tadi aku bertemu dengan Al dan mengobrol sebentar dengannya" kataku pada Za

"Al? Siapa dia? Temanmu disini?" tanya Za

"Ya, rumahnya juga berada di perumahan ini. Aku sering bertemu dengannya" aku menjelaskan.

"Oh begitu. Sudah ayo kita kerjakan tugas kita." kata Za sambil membuka tasnya untuk mengambil buku tugasnya.

****

Tugas kami sudah selesai. Saat ini sudah pukul 4 sore. Za sudah siap-siap untuk pulang ke rumah. Kami menuruni tangga. Sepertinya biasa rumahku terlihat sepi. Kami menuju luar. Kami terus membicarakan tugas kami saat Za sedang mengikat tali sepatunya. Tiba-tiba ada suara dari luar yang sepertinya memanggilku. Aku melongok-longokan kepalaku karena orang itu tidak terlihat. Tapi Za melihatnya dan dia terlihat kaget. Aku bingung. Siapa ya orang itu?

To be contionued!
Thanks for reading it!
Write you comment or on my twitter, please!
My twitter? @lilaandari
Thanks :D

0 comments:



Post a Comment