"Spathodea Campanulata" [Part 2]

PART 2



"Oh, sorry! Aku tidak sengaja. Aku buru buru." katanya sambil membantuku mengambil buku.

"Oh, no problem. Kalau kau buru-buru...um.. tidak usah repot membantuku. I'm..okay." kataku sedikit gugup.

"Ya! Sudah sana pergi! Jangan ganggu El! Aku tahu apa maksudmu Alex!" kata Za dengan galak.

Aku tersontak. Alex....? Nama lelaki ini Alex? Seketika itu aku pingsan.
****

Ini kedua kalinya aku masuk ruang kesehatan hari ini. Melihat kondisi ku kali ini Claire sangat khawatir. Akhirnya dia menelpon ayah ku. 

"Halo? Dengan siapa saya berbicara?" 

Terdengar suara dari seberang sana. Claire sempat melihat ke arah ku. Lalu dia menuju ke pintu dan keluar. Setelah Claire keluar, terdengar suara pintu terbuka. Za masuk ke dalam. Za juga terlihat sama khawatirnya dengan Claire. Dia menghampiriku dan memberikanku air putih yang berada di sebelah kananku. Aku meminum air putih itu. 

"Thanks Za" kataku dengan lemas

"Yap! Anytime for you, El. Are you feel better now?" tanya Za khawatir

"Yes, of course. Za... Aku boleh tanya um.. sesuatu?" tanyaku

"Ya, kamu mau tanya apa?" kata Za

"Tadi aku pingsan kan?" Za menggangguk "Lalu, siapa yang membawaku kesini? Kamu?" aku bertanya lagi

"Ummm......... Ya! Tentu saja aku! Kau pikir siapa lagi yang mau membawa badanmu yang berat itu. Hahaha" kata Za dengan senyum dan tawa yang sedikit dipaksakan. Aku hanya bisa tertawa pelan mendengar jawaban Za

Dibalik tawa mereka berdua, terlihat sepasang mata yang mengintip dari luar. Dia menatap perempuan yang sedang berbaring lemah di kasur. Dia tersenyum tipis lalu berlalu meninggalkan pintu ruang kesehatan.

****
Terdengar langkah kaki yang berlari di lorong ruang kesehatan. Tiba-tiba pintu terbuka. Aku menoleh ke arah pintu. Terlihat sesosok laki-laki yang berdiri di depan pintu itu. Laki-laki yang tak asing bagiku. Yang jarang ku temui karena kesibukannya. Dia terlihat khawatir. Lalu berjalan menghampiriku. 

"Are you okay, honey? Claire bilang kau pingsan dua kali hari ini. Ada apa denganmu, El?" tanya Ayah khawatir

"Aku....... Umm baik-baik saja kok. Mungkin aku hanya sedikit lelah karena baru tiba minggu kemarin." kataku tenang.

"Maaf Mr.Plummer seharusnya anak anda boleh pulang tadi sebelum pelajaran sejarah di mulai tetapi El bilang dia ingin tetap di sini" kata Claire

"Claire boleh aku pulang sekarang? Aku ingin cepat-cepat berbaring di kasurku yang empuk. Hahaha" Aku terpaksa tertawa untuk menunjukan kalau aku baik-baik saja.

"Ya, tentu saja El, istirahat yang baik ya! Semoga kau bisa kembali ke sekolah besok." kata Claire.

"Terimakasih Ms. Claire" kata Ayah sambil menggendongku.


****

Selama perjalanan, aku hanya melamun. Ayah sibuk menelpon rekannya yang aku tidak tahu siapa. Secepat itu aku dilupakan oleh ayah. Tentu saja karena pekerjaannya yang sepertinya lebih penting dariku. Sekolah ku hari ini sangat melelahkan. Sudah kubilang, aku benci sekolah baru. Tapi hari ini aku beruntung karena bertemu teman baru yang tidak ku benci. Siapa lagi kalau bukan Za. Dia membuatku tidak terlalu membenci sekolah baruku. Ya, mungkin Za adalah sahabat baruku.

"Oh, I'm sorry honey! I have to go, I can't go home with you." kata Ayah.

Huhhhhh aku sudah sering mendengar kata-kata ini yah! Kau selalu saja begitu. Apa kau lupa anak semata wayangmu ini sedang sakit? Dia bahkan pingsan dua kali hari ini! Ayah jahat. Kurasa jadikan saja perkerjaanmu sebagai anakmu! batin ku marah

"El? Do you hear me honey?" kata ayah lagi

"Iya yah, aku tau. Iya aku mengerti." kataku dengan malas

"Maafkan ayah ya sayang." kata ayah

Mobil berhenti dipinggir jalan. Ayah turun dari mobil. Namun, sebelum turun ayah mencium keningku lebih dulu. Aku hanya diam. Aku kesal. Aku marah pada ayah. Tapi aku yakin ayah tidak ada peduli denganku. Ayah keluar lalu menaiki taksi yang kebetulan ada di depan sebuah toko bunga yang tidak terlalu jauh dari mobil yang kunaiki berhenti. Ayah melambaikan tangan padaku dan langsung masuk. Mobil pun berjalan lagi.   Aku memandang toko tempat taksi yang dinaiki ayah berhenti. Ternyata itu ada toko bunga dan nama toko itu adalah "Spathodea Campanulata".

Nama yang unik. Apa ya artinya? Sepertinya itu bahasa Latin. Aku sering mendengarnya. Tapi kok......nama itu terasa familier. Nama yang pernah menjadi sebuah.......kenangan. Tapi.....kenapa aku bisa lupa? Kalau memang nama itu berarti kenapa aku tidak ingat?

Aku bingung. Saking bingungnya aku hampir tidak menyadari kalau air mataku tiba-tiba menetes. Aku semakin bingung. Ada apa dengan diriku? Apa ini ada hubungannya dengan nama itu? Tapi...nama apa itu? Terlalu banyak hal aneh yang kualami hari ini. Aku lelah. Aku lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Hingga akhirnya aku terlelap di kursi belakang mobil.



****

"Laurel, tolong tutup matamu ya! Aku akan memberikanmu sebuah kejutan!" terdengar suara laki-laki. Laurel pun mengangguk dan menutup matanya.

"Nah, sekarang kamu boleh buka matamu dan liat apa yang ada ditanganku" kata lelaki itu.

"Wah, bunga apa ini? Cantik sekali. Dimana kamu dapat bunga ini?" Laurel terkejut

"Dari sana!" kata lelaki itu sambil menunjuk sebuah taman yang berisi ribuan bunga. Taman itu sangat indah. Bebagai macam warna bunga berpadu disana. Laurel takjub melihat taman itu.

"Laurel, aku sangat menyayangimu. Bunga ini kuberikan untuk membuktikannya. Nama bunga ini adalah Spathodea Campanulata. Aku ingin kamu menyimpan baik-baik bunga ini. Aku sayang kamu" kata lelaki itu sambil mencium kening Laurel.

****

Laurel terbangun. Aneh, Mimpi apa itu? Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata? Kenapa aku merasa....merasa pernah mengalami hal itu? Apa maksud dari mimpi itu? Laurel sangat bingung.
Aku bangun dari tempat tidur. Aku baru menyadari saat ini aku sudah berada di kamar. Jam dikamar ku menunjukan pukul 4 sore. Mungkin tadi Helena yang menggangkatku kemari. Aku berjalan keluar kamar. Seperti biasa rumahku sangat sepi. Ya, hanya ada aku dan Helena. Pembantu rumah tangga yang sangat setia. Aku sangat menyayangi Helena. Helena bagaikan ibu kedua bagi Laurel. Helenalah yang menjaga Laurel dari kecil sampai sebesar ini.

"Helena? Helena?" aku memanggil Helena

"Hey, kau sudah bangun rupanya. Bagaimana? Sudah merasa baik,El?" kata Helena yang tiba tiba muncul dari dapur

"Ya, aku sudah merasa baik Helena." kataku

"Oh ya, tadi sekitar pukul 3 Karley menelpon kesini. Dia mencarimu. Dia sangat merindukanmu El. Lebih baik kau menelponnya sekarang" kata Helena

"Oh, seriously? Wow! I miss her too! Okay, I will call her. Thanks Helena" kataku dengan riang

"Yeah, your welcome honey" kata Helena sambil tersenyum. Lalu dia kembali ke dapur

Aku langsung menyambar telepon yang berada di dekat jendela rumahku. Tentu saja aku menelpon Karley. Karley adalah sahabat karibku saat aku tinggal di Belanda. Kami selalu menghabiskan waktu berdua. Ayah dan ibu Karley bahkan sudah kuanggap sebagai orang tuaku. Ya, sebelum tinggal disini dulu aku tinggal di Belanda. Hingga akhirnya ayahku dipindahkan lagi. Aku sanggat sedih harus meninggalkan Karley tapi aku harus.

Tuuuuutttt Tuuuuuuutttt......

"Hello?" terdengar suara dari sebelah sana

"Hai! Ini aku El, Karley, maaf tadi aku sedang tidur" kataku

"Eeellll!!! I miss you so badly! Oh god, baru beberapa hari gak ketemu udah kerasa bertahun-tahun! Aku kangen banget sama kamuuuu" kata Karley. Dia terlalu semangat sehingga membuat telingaku sedikit sakit mendengar suara nyaringnya. 

"Yeah, I miss you too! Gimana keadaan mu disana? Baik-baik saja kan?" tanyaku.

"Ya tentu saja aku baik. Bagaimana denganmu?" dia berbalik tanya.

"Ya, sepertinya aku kelelahan sedikit. Tapi sekarang aku sudah merasa baik kok" jawabku

Obrolanku dan Karley berlangsung lama. Kami saling bercerita. Sampai akhirnya dia harus menutup telepon itu. Aku berdiri dari kursiku. Saat ini sudah pukul 5 sore. Aku melihat langit jingga yang indah diluar sana. Sampai mataku tertuju pada sesosok lelaki yang berdiri di depan rumahku. Dia sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Dia menggukan kaus omblong dan celana pendek serta sepatu olahraga. Di tangan kanannya terdapat sebuah bola basket sedangkan di tangan kirinya terdapat botol mineral yang sudah dihabisi setengahnya. Namun, aku baru menyadari kalau sepertinya dia orang yang pernah kulihat. Kepalanya melongok-longok seperti mencari sesuatu. Siapa dia?  


****

To be Continoued
Thank for reading it!
Write you comment here or on my twitter, please!
My twitter? @lilaandari 
Thanks :D

0 comments:



Post a Comment