Siapa Sahabatku? (Part 2)

“Lil, hari ini Paras beda. Dia jadi lebih diam” bisik Lesya padaku.
“Memangnya ada apa dengannya?” tanyaku penasaran.
“Aku tidak tahu. Kalau aku bertanya padanya, hanya gelengan yang
kuterima” kata Lesya dengan muka memelas.
“Aku coba tanya sama dia deh!” kataku sambil berjalan menghampirinya
dan disusul Lesya di belakangku.
“Ras, kamu kenapa? Kata Lesya kamu hari ini berbeda. Ada apa? Cerita
dong!” kataku sembari duduk di sebelah Paras.
Tak jauh berbeda dari Lesya. Paras hanya menggeleng sambil berkata, “Nggak
apa-apa kok”
Aku dan Lesya hanya bisa saling memandang. Kami sama-sama bingung. Kami
tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Kami hanya bisa diam lalu berjalan
keluar kelas meninggalkan Paras.
“Les, Paras kenapa sih? Kok tumben ya dia nggak mau cerita sama kita?”
tanyaku pada Lesya.
“Iya, aku juga tidak tahu Lil. Kemarin dia juga sudah mulai aneh. Ya
mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa ya dengan dirinya” kata Lesya berusaha
meredakan rasa penasaranku.
Aku menyerngitkan dahiku. Aku tahu, ada yang aneh dengan Paras. Wajahnya
terlihat menghindari sesuatu. Sayangnya aku tidak tahu apa itu. Semoga hal itu
tidak akan berpengaruh besar terhadap persahabatan kami. Ya, semoga saja.
Hari ini aku datang lebih pagi dari biasanya. Ketika aku tiba di kelas,
hanya ada Anissa di kelas, salah satu teman sekelasku. Tiba-tiba Paras datang
ke kelasku. Anehnya, dia sama sekali tidak menghiraukanku. Dia malah bertanya
pada Anissa yang sedang piket. Yang kudengar, ia mencari Silmy. Entah mengapa,
dadaku terasa sesak. Apa maksudnya? Jadi siapa sahabat Paras yang sebenarnya? Aku…?
Atau Silmy…? Aku bingung sekaligus sakit hati. Aku merasa dikhianati.
Paras berubah sejak itu. Dia tidak lagi menyapaku, bahkan dia
memalingkan mukanya saat bertemu denganku. Aku tak mengerti apa yang terjadi.
“Les, Paras kenapa sih? Dia jadi sangat menyebalkan!” gerutuku.
“Aku juga nggak tahu Lil. Dia juga jadi beda sama aku. Kita jadi punya
jarak” kata Lesya.
“Iya, dia berubah karena apa ya? Tiba-tiba jadi kayak orang asing. Kita
nggak pernah saling sapa lagi” kata Timeh menimpali.
“Udahlah, aku nggak peduli lagi sama dia. Aku capek sama tingkahnya! Rasanya
aku ingin meninggalkan sekolah ini. Semuanya membuatku lelah. Aku ingin
cepat-cepat SMA!” kataku pada Timeh dan Lesya.
Namun, dibalik ketidakpedulianku ada rasa rindu yang semakin lama
semakin menyelimuti tubuhku. Rasa itu menyeruak membuat dadaku sesak. Aku
selalu memperhatikan Paras. Aku merindukannya. Candaannya, tawanya,
ledekkannya. Semuanya. Aku berusaha menutupi semuanya. Tapi aku tidak bisa,
setiap hari aku selalu menjelek-jelekkan Paras di depan Mutia. Aku selalu
bilang aku membenci dirinya. Akan tetapi, itu semua tidak membuatku benar-benar
membencinya. Aku malah semakin merindukannya. Aku tidak tahu harus bagaimana.
*****
Saat ini, hari-hari hanya aku isi bersama Tisa dan Mutia. Entah
mengapa, tiba-tiba Lesya dan Timeh menghilang dariku. Aku sering melihat Lesya,
Silmy dan Paras tertawa bertiga. Rasanya, aku ingin berlari menghampiri mereka,
kembali tertawa dan bercanda bersama mereka. Entah mengapa, setiap aku ingin
menghampiri mereka, seperti ada yang mengikatku. Aku tak tahu apa itu. Mungkin,
rasa enggan dan gengsi yang membuatku terjerat. Terjerat sendirian. Aku
terjerat oleh diriku sendiri.
Ternyata, Lesya tidak sepenuhnya hilang dariku, begitu juga dengan
Timeh. Itu hanyalah prasangka buruk yang terlalu berlebihan. Meskipun sekarang mereka
dekat dengan Silmy dan Paras, mereka tetap jadi sahabatku.
“Lil, aku kangen sama kamu!” kata Lesya padaku.
“Oh, kirain kangennya sama Paras!” semburku. Kata-kata kasar itu
tiba-tiba saja terlontar dari mulutku.
“Paras….. dia juga kangen sama kamu.” kata Lesya.
“Maksud kamu apa? Bukankah dia yang lebih dulu menjauhiku?” balasku
emosi.
“Tapi dia bilang sama aku kalau dia kangen sama kamu.” kata Lesya lagi.
“Terus aku harus bilang apa? Aku kangen dia juga? Aku tidak mengerti
dengan jalan pikirannya! Sekarang, aku tanya sama kamu. Kenapa dia tiba-tiba
menghilang? Dia selalu memalingkan mukanya kalau ketemu aku! Apa sih arti aku
buat dia?” geramku.
“Dia….menghilang dari kamu karena…..” jawab Lesya ragu.
“Karena apa? Mutia? Kalau memang itu, seharusnya dia bicara baik-baik
di depan aku! Nggak kayak gini! Lagipula, ada apa dengan Mutia? Apa karena soal
Guste dulu? Iya? Oke, kalau emang itu masalahnya aku akan coba mengerti! Tapi
seharusnya dia mengajak ku bicara baik-baik!” cerocosku dengan cepat hingga
membuat Lesya terdiam.
“Huh! Pokoknya aku benci Paras!” teriakku di depan pintu kelas.
Tiba-tiba Lesya tertawa. Aku bingung lalu melihat kearah tertawaannya. Ternyata
ada Paras di depan pintu kelas. Dia terlihat kaget. Lesya tertawa karena
melihat wajah Paras yang melongo. Apakah dia mendengarkan kata-kataku tadi? Kuharap
begitu.
“Les, terus kemarin Paras bilang apa? Dia mendengar kata-kataku kan?”
tanyaku penasaran.
“Katanya dia nggak dengar sama sekali Lil. Aku saja bingung. Kok bisa
ya? Padahal kan suaramu sudah melebihi 8 oktaf! Hahaha” ledek Lesya.
“Kamu serius Les? Yah, padahal aku berharap dia mendengarkan kata-kata
ku kemarin” sesalku.
“Lil, kamu tahu nggak kenapa dia memalingkan muka ketika ketemu kamu? Dia
bilang, dia sangat ini memelukmu tiap liat kamu. Dia kangen kamu.” kata Lesya.
Kata-kata itu menggetarkan hatiku. Aku bingung harus percaya atau
tidak. Sejujurnya, aku juga merindukan Paras. Tapi…… Ah! Aku tak tahu! Semua
ini membuatku bingung! Entah bagaimana, kata-kata itu terus terngiang di
telingaku. Paras juga rindu padaku? Kata-kata itu membuatku senang sekaligus
bingung.
Aku senang karena ternyata bukan hanya aku yang merindukannya. Aku juga
bingung karena……seandainya aku dan Paras kembali merajut persahabatan kami,
bagaimana dengan Mutia? Yang aku tahu dia sangat membenci Paras. Lalu, akankah
sikapnya berubah padaku jika dia tahu aku kembali bersahabat dengan Paras? Akankah
Mutia menjauhiku?
Aku tidak ingin hal itu terjadi, tapi…… di sisi lain aku juga ingin
kembali bersahabat dengan Paras. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apakah hanya
satu pilihan yang bisa kupilih? Tidakkah aku bisa memiliki mereka semua? Apakah
itu berlebihan? Tapi, bukankah memiliki banyak sahabat itu menyenangkan? Mengapa
hanya ada satu pilihan di dalam hidup? Aku tak mengerti. Sama sekali tidak
mengerti.
Rasanya ingin kutumpahkan semua rasa gelisahku kepada seseorang, tapi
siapa dia? Saat ini aku hanya sendiri. Aku berada di dua sisi yang berbeda. Dua
sisi yang membuatku harus memilih. Aku harus memendam semuanya sendiri
sekarang. Aku tidak ingin memikirkan sisi mana yang harus kupilih, karena aku
tidak akan memilih. Esok,lusa atau kapanpun, aku berharap aku tidak harus
memilih.
*****
Hai. Selamat datang di part 2! Gimana ceritanyaaa? Seruuu? Semoga deehh hehehe. Tapi ini belum selesai doooong. Part 3 nya bakal di post secepatnya kok!










0 comments:
Post a Comment