Di depanku sudah terlihat Paras. Entah mengapa dia menangis. Awalnya
aku tak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya, aku melangkah maju dan langsung
mendekap erat tubuhnya. Di sampingku semakin terdengar isakan Paras. Dia
terserdu-sedu memanggil namaku. Aku bingung. Aku hanya bisa terdiam dan
memeluknya semakin erat. Tidak hanya Paras, Silmy, Timeh dan Lesya akhirnya
memeluk kami berdua. Rasa lega tiba-tiba
muncul didiriku.
“Lila…..maafkan aku ya……aku cuma…..cuma…..” kata Paras yang dibarengi
dengan isakkan. Aku hanya bisa menepuk punggungnya berharap itu akan membuatnya
merasa lebih baik.
Setelah melepaskan pelukan kami, Paras mulai menjelaskan alasan
sebenarnya dia menjauhiku.
“Aku menjauh karena…….aku nggak ingin merusak kebahagiaan kamu. Aku
sering melihat kamu dan Mutia tertawa bersama dan aku nggak mau merusak itu
semua. Hanya karena masa laluku dan Mutia, aku jadi memisahkan kalian. Aku
nggak mau itu terjadi, karena itu aku memilih untuk pergi dan menjauh.” jelas
Paras panjang lebar. Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Paras.
“Jadi kita baikan nih?” celetuk Lesya.
“Kita nggak bakat musuhan.” kataku sambil tersenyum disusul dengan tawa
sahabat-sahabatku. Ya, mereka selalu menjadi sahabatku.
Bel masuk berbunyi, aku dan Silmy kembali ke kelas bersama-sama. Hari
ini terasa berbeda bagiku. Sangat berbeda. Rasa senang dan lega menyeruak
dihatiku. Sesampainya di kelas, tiba-tiba rasa takut menjalar ditubuhku. Mutia,
kurasa dia penyebabnya. Aku berjalan ke tempat dudukku dengan ragu.
“Lil, kamu sudi berteman dengan Paras?” celetuk Mutia. Deg! Kata-kata
itu menyesakkan dadaku. Aku terdiam, masih tidak tahu harus bicara apa.
“Kamu menjilat ludah kamu sendiri, Lil!” kata Mutia lagi. Dadaku
kembali sesak. Kata-kata itu menyakitkan bagiku.
“Dia minta maaf sama aku, ya masa aku nggak maafin dia.” kataku asal. Entah
kenapa tiba-tiba aku merasa sedikit kesal. Mungkin karena kata-katanya.
Tiba-tiba terbesit pikiran yang aneh di otakku. Sifat Mutia membuatku
berpikir. Apakah ini berarti aku harus
memilih Paras dan yang lainnya? Apakah aku harus meninggalkan Mutia? Aku ragu. Aku
takut pilihan itu tidak tepat. Di sisi lain, sifat Mutia seakan meyakinkanku. Menyakinkaku
akan apa? Aku bahkan tidak berani mengatakannya. Tidak, aku tidak akan
mengatakannya, karena aku tidak akan memilih.
*****
Siang ini, aku, Mutia dan Tisa berniat untuk pergi jalan-jalan. Ya,
meskipun aku sudah kembali bersahabat dengan Paras, Lesya, Silmy, Timeh, tidak berarti
aku melupakan mereka. Mereka tetap sahabatku.
“Kita foto di tempat yuk! Kayaknya bagus deh!” kata Tisa.
“Emang bagus kok! Aku pernah foto disitu.” timpal Mutia.
“Lil? Yuk kesana!” sahut Tisa menganggetkanku.
“Kemana?” tanyaku bingung.
“Aduh, kamu melamun terus sih! Itu ke tempat foto itu” kata Tisa sambil
menunjuk. Aku membaca nama tempat itu. “Pictangle”. Sepertinya, aku pernah
ketempat ini. Sekitar beberapa bulan yang
lalu. Tanggal 26 Maret 2012.
Ya, 26 Maret 2012……..
“Sayangnya Silmy tidak ikut ya! Padahal kalau fotonya berenam kan lebih
seru!” eluhku.
“Iya nih! Foto kita jadi nggak lengkap deh!” sahut Timeh.
“Padahal, aku berharap hari ini kita semua bisa berkumpul” kata Lesya
sedih.
“Iya! Ini kan hari jadi setahun kita berenam” timpal Mutia.
“Sudahlah. Ayahnya Silmy pasti punya alasan untuk melarang dia kesini”
tegas Paras.
Ya, tepat hari ini aku, Timeh, Lesya, Mutia, Paras dan Silmy sudah
setahun bersahabat. Aku berharap kami akan bersahabat sehatun, dua tahun dan
bertahun-tahun lamanya. Aku tidak ingin kami berpisah, kami akan selalu
berenam. Bagaimana pun keadaanya.
*****
Entah
mengapa, ingatan singkat itu membuatku tersadar. Mereka semua
lebih dari apapun. Pada saat Paras menjahuiku, aku merindukannya. Itu
berarti Paras sudah menjadi bagian dari hidupku. Bagian yang mungkin
sangat mudah
dilepaskan tapi tidak untuk dilupakan. Terlebih lagi dengan adanya
Silmy,
Lesya, Timeh dan juga Tisa yang membuat bagian hidupku menjadi lebih
sempurna.
Mungkin
dalam hidup hanya ada satu pilihan, dan aku lebih baik tidak
memilih daripada memutuskan sesuatu yang salah. Aku lelah menyesal.
Lagipula,
cinta itu dipilih bukan memilih. Jika mereka benar-benar mencintaiku,
merekalah
yang seharusnya memilihku. Aku tidak berharap banyak. Aku hanya ingin
bahagia
dengan sahabatyang benar-benar menyayangiku. Oh iya satu lagi, menurutku
GOLD
tetaplah enam dan tidak akan menjadi ganjil. Tak hanya GOLD yang
berjumlah genap, sahabatku adalah genap. Ya, merekalah Paras, Silmy,
Lesya, Timeh dan Tisa. Lalu, Mutia? Bagaimana dengan dirinya? Ya, saat
ini Mutia adalah bayangan hitam dalam hidupku. Mengapa? Aku tidak bisa
menceritakan hal itu sekarang. Mungkin hanya satu kata yang akan
menjelaskannya. Rumit. Ya, kata itulah yang paling tepat. Saat ini aku
tidak akan memikirkan itu, aku hanya ingin menyayangi sahabatku, untuk
saat ini dan semoga selamanya.
*****
This is the end. Hope you like it guys!











0 comments:
Post a Comment