Cerpen


Siapa Sahabatku? (Part 3)

“Lil, Paras mau minta maaf sama kamu…..” kata Lesya tiba-tiba.
Di depanku sudah terlihat Paras. Entah mengapa dia menangis. Awalnya aku tak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya, aku melangkah maju dan langsung mendekap erat tubuhnya. Di sampingku semakin terdengar isakan Paras. Dia terserdu-sedu memanggil namaku. Aku bingung. Aku hanya bisa terdiam dan memeluknya semakin erat. Tidak hanya Paras, Silmy, Timeh dan Lesya akhirnya memeluk kami berdua.  Rasa lega tiba-tiba muncul didiriku.
“Lila…..maafkan aku ya……aku cuma…..cuma…..” kata Paras yang dibarengi dengan isakkan. Aku hanya bisa menepuk punggungnya berharap itu akan membuatnya merasa lebih baik.
Setelah melepaskan pelukan kami, Paras mulai menjelaskan alasan sebenarnya dia menjauhiku.
“Aku menjauh karena…….aku nggak ingin merusak kebahagiaan kamu. Aku sering melihat kamu dan Mutia tertawa bersama dan aku nggak mau merusak itu semua. Hanya karena masa laluku dan Mutia, aku jadi memisahkan kalian. Aku nggak mau itu terjadi, karena itu aku memilih untuk pergi dan menjauh.” jelas Paras panjang lebar. Aku hanya tersenyum mendengar penjelasan Paras.
“Jadi kita baikan nih?” celetuk Lesya.
“Kita nggak bakat musuhan.” kataku sambil tersenyum disusul dengan tawa sahabat-sahabatku. Ya, mereka selalu menjadi sahabatku.
Bel masuk berbunyi, aku dan Silmy kembali ke kelas bersama-sama. Hari ini terasa berbeda bagiku. Sangat berbeda. Rasa senang dan lega menyeruak dihatiku. Sesampainya di kelas, tiba-tiba rasa takut menjalar ditubuhku. Mutia, kurasa dia penyebabnya. Aku berjalan ke tempat dudukku dengan ragu.
“Lil, kamu sudi berteman dengan Paras?” celetuk Mutia. Deg! Kata-kata itu menyesakkan dadaku. Aku terdiam, masih tidak tahu harus bicara apa.
“Kamu menjilat ludah kamu sendiri, Lil!” kata Mutia lagi. Dadaku kembali sesak. Kata-kata itu menyakitkan bagiku.
“Dia minta maaf sama aku, ya masa aku nggak maafin dia.” kataku asal. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa sedikit kesal. Mungkin karena kata-katanya.
Tiba-tiba terbesit pikiran yang aneh di otakku. Sifat Mutia membuatku berpikir.  Apakah ini berarti aku harus memilih Paras dan yang lainnya? Apakah aku harus meninggalkan Mutia? Aku ragu. Aku takut pilihan itu tidak tepat. Di sisi lain, sifat Mutia seakan meyakinkanku. Menyakinkaku akan apa? Aku bahkan tidak berani mengatakannya. Tidak, aku tidak akan mengatakannya, karena aku tidak akan memilih.
*****
Siang ini, aku, Mutia dan Tisa berniat untuk pergi jalan-jalan. Ya, meskipun aku sudah kembali bersahabat dengan Paras, Lesya, Silmy, Timeh, tidak berarti aku melupakan mereka. Mereka tetap sahabatku.
“Kita foto di tempat yuk! Kayaknya bagus deh!” kata Tisa.
“Emang bagus kok! Aku pernah foto disitu.” timpal Mutia.
“Lil? Yuk kesana!” sahut Tisa menganggetkanku.
“Kemana?” tanyaku bingung.
“Aduh, kamu melamun terus sih! Itu ke tempat foto itu” kata Tisa sambil menunjuk. Aku membaca nama tempat itu. “Pictangle”. Sepertinya, aku pernah ketempat ini. Sekitar  beberapa bulan yang lalu. Tanggal 26 Maret 2012.

Ya, 26 Maret 2012……..

“Sayangnya Silmy tidak ikut ya! Padahal kalau fotonya berenam kan lebih seru!” eluhku.
“Iya nih! Foto kita jadi nggak lengkap deh!” sahut Timeh.
“Padahal, aku berharap hari ini kita semua bisa berkumpul” kata Lesya sedih.
“Iya! Ini kan hari jadi setahun kita berenam” timpal Mutia.
“Sudahlah. Ayahnya Silmy pasti punya alasan untuk melarang dia kesini” tegas Paras.
Ya, tepat hari ini aku, Timeh, Lesya, Mutia, Paras dan Silmy sudah setahun bersahabat. Aku berharap kami akan bersahabat sehatun, dua tahun dan bertahun-tahun lamanya. Aku tidak ingin kami berpisah, kami akan selalu berenam. Bagaimana pun keadaanya.
*****

Entah mengapa, ingatan singkat itu membuatku tersadar. Mereka semua lebih dari apapun. Pada saat Paras menjahuiku, aku merindukannya. Itu berarti Paras sudah menjadi bagian dari hidupku. Bagian yang mungkin sangat mudah dilepaskan tapi tidak untuk dilupakan. Terlebih lagi dengan adanya Silmy, Lesya, Timeh dan juga Tisa yang membuat bagian hidupku menjadi lebih sempurna.
Mungkin dalam hidup hanya ada satu pilihan, dan aku lebih baik tidak memilih daripada memutuskan sesuatu yang salah. Aku lelah menyesal. Lagipula, cinta itu dipilih bukan memilih. Jika mereka benar-benar mencintaiku, merekalah yang seharusnya memilihku. Aku tidak berharap banyak. Aku hanya ingin bahagia dengan sahabatyang benar-benar menyayangiku. Oh iya satu lagi, menurutku GOLD tetaplah enam dan tidak akan menjadi ganjil. Tak hanya GOLD yang berjumlah genap, sahabatku adalah genap. Ya, merekalah Paras, Silmy, Lesya, Timeh dan Tisa. Lalu, Mutia? Bagaimana dengan dirinya? Ya, saat ini Mutia adalah bayangan hitam dalam hidupku. Mengapa? Aku tidak bisa menceritakan hal itu sekarang. Mungkin hanya satu kata yang akan menjelaskannya. Rumit. Ya, kata itulah yang paling tepat. Saat ini aku tidak akan memikirkan itu, aku hanya ingin menyayangi sahabatku, untuk saat ini dan semoga selamanya.
*****

This is the end. Hope you like it guys!

0 comments:



Post a Comment